Kamis, 30 Oktober 2008

Berjualan singkong ala Tela Krezz

Dari kejelian seorang pemuda dari kota Yogyakarta yang jeli dalam memandang nilai jual pada ketela, maka hadirlah Tela Krezz. Produk makanan dari bahan baku ketela yang memiliki berbagai varian rasa. Tela Krezz merupakan usaha kecil menengah yang system penjualannya diwaralabakan. Usaha ini di mulai atas dasar kepercayaan kepada semua pihak yang bergabung baik menjadi agen maupun menjadi mitra Tela Krezz. Dengan demikian Tela Krezz telah berkembang dengan pesat di seluruh tanah air. Hingga awal tahun ini, Tela Krezz telah memiliki 45 keagenan dan 250 kemitraan.

Agen adalah perwakilan Tela Krezz di suatu wilayah yang berlaku ekslusif yang memiliki syarat, hak dan kewajiban tertentu. Investasi untuk menjadi agen adalah Rp 12 juta untuk kota B, dan Rp 15 juta untuk kota A. Kota A dan kota B dibedakan berdasarkan kepadatan penduduk di suatu wilayah. Sedangkan yang dimaksud mitra adalah pemilik outlet yang melakukan penjualan Tela Krezz kepada konsumen. Mitra dibagi menjadi dua yaitu mitra standard an mitra esklusif. Biaya investasi untuk mitra standar Rp 3.5 – 4.5 juta dan biaya investasi untuk mitra esklusif adalah Rp 5 – 6 juta.

Agen dan mitra Tela Krezz terdapat di Batam, Medan, Jambi, Pekanbaru, Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Bogor, Bandung, Depok, Ciledug, Banten, Purwakarta, dll. Visi Tela Krezz ingin membuka lapangan pekerjaan seluas luasnya inilah yang mendorong kami untuk terus mencari para investor untuk bergabung bersama dalam usaha franchise ini. (sumber : majalah Franchise)

CM : (0274) 7000211

Rabu, 29 Oktober 2008

Dia yang mengejar dua kelinci akan kehilangan dua kelinci (by Mario Teguh)

Dia yang mengejar dua kelinci akan kehilangan dua kelinci
Itu sebabnya dalam berkarir dalam bekerja
Dalam mengejar suatu tujuan dalam hidup
Selalu menempellah seperti perangko
Mulai dikirimkan sampai di tempat tujuan
Perangko itu tetap menempel
Banyak pribadi menjadi perangko tanpa lem
Sehingga saat dikirimkan sudah lepas dalam perjalanan
Sudah meragukan tujuan tujuannya sendiri
Meragukan cara caranya
Dan yang paling parah meragukan haknya untuk berhasil
Jadi fokuslah pada satu hal, ikuti dengan sungguh sungguh
Menepellah seperti perangko kepada surat yang tetap menempel
Dari perjalanan berangkat sampai di tempat tujuan
Karena orang orang yang mengejar dua kelinci akan kehilangan dua duannya

Senin, 27 Oktober 2008

Bisnis Bengkel Motor JMM

Hidayat punya seorang putra yang hobinya ngutak-atik motor. Anak remaja itu digandrungi kawan-kawanya karena is dianggap bertangan dingin memperbaiki motor mereka. Sampai-sampai rumah Haji Hidayat ramai oleh motor. Dan, tetangga pun protes. Karena sudah mulai berisik.Hidayat, 45, karyawan bagian promosi sebuah perusahaan percetakan terkemuka, lalu curhat kepada dua orang karibnya di tempat kerja. Namanya B. Agus Widyawan, 24, dan Yustinus Wahyu Raharjo, 29.

Curhat soal si anak yang punya ketrampilan tapi mulai mengganggu kenyamanan tetangga. Eh, curhat itu temyata berbuah. Mereka lantas sepakat mencoba membuka usaha bengkel. Pilih-pilih nama, akhirnya nyangkut pada nama Jaya Mandiri Motor (JMM). "Begitu lah awal mulanya berdirinya bengkel ini," kata Wahyu, ketika bercerita kepada DUIT! di bengkel JMM di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.Maka sejak dua bulan lalu, 'tiga sekawan AWH' ini resmi telah mempunyai sebuah usaha. Dengan menyewa sebuah kios 4 x 5 meter di tepi jalan raya yang ramai, bengkel itu beroperasi sejak pagi hingga malam. Putra Hidayat yang kini sudah kuliah itu, sehari-hari ikut mengawasi manakala sang tiga sekawan bekerja. Sore hari, Hidayat mengawasi lebih intens.

Menurut Wahyu, cukup lama juga mereka mempersiapkan pendirian bengkel Mulai dari mencari lokasi yang dianggap ramai, mencari pemasok, hingga mempersiapkan tata interior bengkel mereka. Sedangkan untuk investasi awal mereka menfaatkan Kredit Tanpa Agunan (KTA) sebuah bank swasta. Jumlahnva sebesar Rp15 juta atas nama Hidayat.Menurut Wahyu, mulanya dia dan Agus hanya membantu saja usaha Hidayat, yang mereka sapa dengan panggilan Baang Dayat. Namun belalcangan mereka sepakat

Untuk membagi rata distribusi permodalan, begim juga kepemilikan. Kontribusi itu dalam bentuk membayar cicilan pinjaman ke bank per bulannya yang sebesar Rp700 ribu. "Kita ini kan orang gajian mas. Jadi setiap bulan kitamenyetorkan bagian masing-masing untuk dihayarkan ke bank," kata Wahyu. Hidayat menambahkan mereka bertiga memang sepakat memulai usaha kecil-kecilan dulu.Pokolnya jalan, sambil jalan kita kembangkan, Ketiganya kemudian sepakat membagi peran dalam pengelolaannya. Hidayat lebih banyak bergelut di bidang operasional sena pengawasan operasi sehari-hari. Agus banyak menauh perhanan kepada pemasaran. Sedangkan Wahyu memusarkan pemikiran pada perihal keuangan dan administrasinya.Ketika mereka sudah sepakat berusaha dan mendapatkan persetujuan pinjaman dari bank, langkah pertama yang mereka lakukan adalah pemilihan lokasi.

Setelah survei kesana kemari, Hidayat yang setiap hari melintasi di jalan Kahfi. kawasan Jagakarsa itu. merasa bahwa itu adalah lokasi yang pas. Jalan ini selalu ramai. Memang bengkel sepeda motor cukup banyak juga di seputar jalan itu. Namun di lokasi yang mereka dapatkan hanya ada satu bengkel.Mereka kemudian melakukan negosiasi ,dengan pemilik kios. Akhirnya didapatkan kesepakatan kontrak per tahun dengan bayaran per bulan yakni sebesar Rp800ribu, Listrik ditanggung bersama sama dengan pemilik kios yang rumahnya di belakang kios, mereka membayar Rp100ribu perbulan, setelah semua siap bengkel kemudian resmi dibuka dan persiapan interior kios dan belanja perlengkapan barang barang mereka lakukan dalam tiga hari.

Sebagian besar sparepart dan peralatan mereka bell dari agen di Pasar Kenari. Dua orang pekerja mereka rekruit, sedangkan putra Pak Hidayat yang masih kuliah, torus membantu bila sudah pulang dari kuliahnya.Menurut Wahyu, upah karyawannya terdiri dari upah dan uang makan per hari sebesar Rp10 ribu. Total per bulan untuk keduanya adalah Rp400 ribu. Sementara itu tarif jasa yang mereka tetapkan adalah Rp15 ribu untuk service ringan, Rp50 ribu untuk service besar dan Rp75 ribu untuk tunai mesin. Jasa service ini tentu saja di luar penggantian spare part.Wahyu mengakui deg-degan juga di hari pertama usaha mereka ini. Sebab, selama beberapa hari sempat tidak ada pelanggannya.

Untungnya kawan-kawan anak Hidayat akhirnya datang juga meskipun agak malam. Pada minggu pertama dan kedua usaha mereka, rata-rata mereka mendapat pelanggan 4-5 motor.Siap Rugi Tiga Bulan PertamaDalam perhitungan Wahyu, Naya tetap usaha mereka adalah Rp2.4 juta setiap bulannya. Ini terdiri dari uang sewa kios, cicilan btmga bank, upah dan biaya Kami memang sudah memperhitungkan dalam empat bulan pertama mungkin akan rugi. Naawn setelah ins, kami menargetkan akan bisa mencapai titik impas operasional," kata Wahyu. Wahyu memproyeksikan, bila pada bulan pertama mereka masih hanya mendapatkan pelanggan 4-5 motor perhari, pada bulan-bulan berikutnya sudah meningkat menjadi 7-8 motor per hari. "Pada bulan keempat semestinya kami sudah bisa mendapatkan pelanggan 15 motor tambah Wahyu.

Hal ini memang diakui Wahyu tidak mudah. Apalagi pada bulan itu mereka belum mendapatkan montir utama. "Rupanya montir utama itu sudah kata Wahyu. Sebelum ini dia sudah punya calon yang direkomendasikan teman. Tapi sang montir tinggalnya di Jawa tengah dan hanya mau pindah dengan seluruh keluarganya, akhirnya negosiasi terpaksa di batalkanBelakangan mereka sedang bemegosiasi dengan montir utama lainnya. Menurut Wahyu, rata-rata gaji montir utama adalah Rp600ribu~Rp700 ribu per bulan, plus 10% dari jasa service yang dia tangani per hari. Sementara ini, keunggulan utama bengkel mereka adalah service tune up, terutama melayani para bikers, terutama anak-anak gaul yang gandrung membuat motornya lebih kencang.

Ini memang merupakan spesialisasi putra Hidayat yang sudah lama menekuni hal semacam ini. Namun ke depan, mereka akan mengutamakan service-service standar. Itu sebabnya, dalam men-can pelanggan, `tiga sekawan' ini mencoba menggunakan jejaring mereka sebagai karyawan perusahaan percetakan. Menurut Hidayat, mereka kini sedang berusaha menjalin kerjasama dengan tujuh toko utama Gramedia Group yang ada di Jakarta Selatan disamping dengan karyawan Cahaya minimarket, Toko Buku Kharisma dan Hero Supermarket Gatot Subroto.

Kerjasama yang mereka jajaki adalah dalam hal perbaikan motor para karyawannya. "Komi menawarkan diskon 20% kepada mereka dan pembayarannya bisa di akhir bulan dengan potong gaji," kata Hidayat. Perusahaan-perusahaan dimaksud di atas adalah klien mereka sebagai karyawan bagian promosi perusahaan percetakan. Selain itu, kepada pelanggan umum mereka menawarkan program 4 x service gratis setiap kali service.

Kerjasama dengan agen suku cadang juga terus dijajaki. Sementara dengan sebuah produsen oli terkemuka di Indonesia, mereka diberi tantangan, bila mereka bisa mencapai target ganti oli 100 motor dalam sebulan dengan memakai oli perusahaan tersebut, mereka akan dihadiahi papan reklame di depan bengkel mereka dengan pajaknya ditanggung oleh perusahaan tersebut.Plan BHingga saat ini, menurut Wahyu, dari investasi awal sebesar Rp15 juta, sebagian besar dialokasikan untuk pembelian persediaan barang, disamping untuk biay a operasional. Sedangkan untuk investasi merapikan interior, mereka menghabiskan Rp2 juta.Bagaimana jika tiga bulan pertama lewat dan tidak mencapai target juga?Hidayat dan Wahyu tersenyum saja menjawab pertanyaan ini. Namun, menumt Hidayat, mereka sudah punya PlanB untuk mengantisipasi hal itu.

Termasuk dengan sumber pendanaan baru yang sudah mereka cadangkan. "Tetapi mudah-mudahan itu tidak sampai kami gunakan," kata Hidayat. Makin hari intensitas mereka bertiga mengawasi bisnis ini pun meningkat. Wahyu yang paling muda diantara mereka bertiga, secara teliti membuat catatan administrasi bengkel ins. Mcnurut Wahyu, masa-masa puncak jasa mereka biasanya adalah pada hari Jum'at, Sabra dan Minggu. Naman, tambah dia, ada pelajaran bans yang mereka dapatkan. Ternyata setelah mereka jalan beberapa hari, walau pada sore hari pelanggan mulai sepi, menjelang malam malah bisa tambah ramai lagi. "Nah, karena itu kami akhirnya bicara dengan pemilik kios, apakah kami bisa buka sampai agak malam. Teryata disetujui. Kami buka sampai jam 9 malam," kata Wahyu.

Menerabas Bisnis Ikan Hias

Potensi ekspor ikan hias Indonesia cukup besar. Sayangnya, masih banyak kendala. Ekspor ikan hias, misalnya, masih didominasi pembeli dari Singapura. Mereka pun leluasa mendikte harga. Seorang eksportir ikan hias yang namanya, sebut saja, Rudy, kesal benar dengan Departemen Kehutanan. Pasalnya, dia tetap tidak bisa mendapatkan izin menjadi eksportir ikan arwana Irian atau schlerrophagus jardini. Padahal, Rudy mengaku sudah mengurus berbagai persyaratan administratif.Pantas saja kalau Rudy merasa kesal.

Soalnya, arwana yang habitat asalnya di sungai-sungai Merauke ini merupakan ikan yang laku keras di pasar internasional. Bagi eksportir ikan hias, mengekspor ikan arwana berarti membawa keuntungan tersendiri, karena, biasanya sang importir juga lantas membeli ikan-ikan yang lain. "Dengan begitu, kalau bisa mengekspor arwana, bargaining power kepada pembeli di luar negeri lebih besar," kata Rudy.

Ternyata, yang mengeluh soal ketentuan ekspor arwana bukan hanya Rudy. Hendra Iwan Putra, pemilik Harlequin Aquatics, unit usaha yang melakukan ekspor impor ikan hias, juga mengatakan hal serupa. Sebenarnya, ia sudah mengusahakan agar Departemen Kehutanan bisa mengizinkan lebih banyak pelaku eksportir arwana. Namun, sampai sekarang belum berhasil juga.Menurut Hendra, Departemen Kehutanan mempermasalahkan kelestarian arwana, jika eksportir jenis ini terlalu banyak.

Wajar saja. Soalnya, harga arwana juga tidak jelek-jelek amat. Untuk itu, Hendra sudah mengusulkan agar ekspor arwana dibatasi dengan kuota. "Tapi, belum berhasil juga," kata Hendra, yang juga Sekretaris Jenderal Indonesia Tropical Fish Exporters Association (Inafish) ini. Departemen Kehutanan tetap melarang ekspor arwana, kecuali ikan hasil penangkaran. Masalah yang membelit ekspor arwana, ternyata cuma satu dari sekian banyak masalah dalam bisnis ikan hias Indonesia. Alhasil, meski Indonesia memiliki banyak sekali koleksi ikan hias, para eksportir kita bak tidak bergigi di pasar internasional.

Kok, kalah jauh dengan SingapuraSebagaimana terungkap dalam salah satu seminar Indonesia Fish akhir September lalu, sebenarnya Indonesia telah menjadi eksportir ikan hias sejak 1970-an. Pasarnya Singapura dan Hongkong, dengan nilai ekspor sekitar US$ 100.000 setahun. Dari dua negara tersebut ikan hias Indonesia diperdagangkan ke seluruh penjuru dunia. Menurut data, tercatat tidak kurang dari lima puluh negara sudah menjadi pasar ikan hias Indonesia. Tapi, karena melalui tengkulak di Singapura dan Hongkong, devisa yang kita peroleh dari perdagangan ikan hias internasional ini tidak terlalu besar.

Sejauh ini, devisa ikan hias tertinggi adalah US$ 12 juta, pada 2002. Ironisnya, Singapura justru mengungguli Indonesia dalam hal perdagangan ikan hias. Mereka mendominasi pasar Eropa sampai 25%, sementara ekspor Indonesia ke sana cuma tercatat 9%. Singapura juga memegang 30% pangsa ikan hias Amerika, sementara Indonesia hanya 6%. Namun, sebagian eksportir Indonesia rupanya sudah puas dengan memasok ikan hias pada para pembeli Singapura. "Padahal, para eksportir Singapura ini bisa menjual kembali dengan harga berlipat-lipat ke pembeli di negara lain," kata Hendra.

Dulu, Hendra mengaku juga menjual ikan ke Singapura, tapi belakangan ia merintis sendiri pasar Eropa dan Amerika. Alhasil, para pembeli di Singapura memegang peran yang penting dalam penentuan harga. Hendra memberi contoh fenomena ikan botia yang berasal dari Pontianak dan Jambi. Ketika sedang panen, harga ikan botia cuma Rp 2.000 seekor. Pembeli Singapura menetapkan harga Rp 2.000 per ekor, dan eksportir Indonesia pun sepakat. Biasanya, pembeli Singapura memborong ikan botia dalam jumlah besar dan menyimpannya.

Ketika panen berakhir, mereka akan menjual ikan tersebut dengan harga berlipat ganda. Padahal, saat itu pula, biasanya importir dari Eropa dan Amerika mencari ikan langsung dari sumbernya di Indonesia. Tapi, apa daya, ikan yang sama sudah diborong pedagang Singapura. Hal ini terjadi berulang kali. Menurut Hendra, pedagang kita jadi sangat bergantung pada Singapura. Mempertemukan eksportir dan importir langsungSumpeno Suryo, Dirjen Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan, sepakat bahwa para eksportir Indonesia harus melepaskan ketergantungannya pada Singapura.

Itu sebabnya, departemennya secara rutin menyelenggarakan pameran ikan hias di dalam negeri dan luar negeri. Misalnya, mereka pergi ke Jerman, RRC, dan Taiwan. "Tahun depan kami juga akan pameran di Jepang," kata Sumpeno. Melalui pameran itu, para eksportir Indonesia bisa bertemu langsung dengan importir dari Amerika dan Eropa. Di sisi lain, Sumpeno mengakui bahwa para eksportir Singapura mempunyai kelebihan sehingga bisa menguasai pasar ikan hias di berbagai negara. "Mereka bisa menjaga kontinuitas pasokan, jumlah, mutu, dan ukuran," katanya.

Hal ini bisa dilakukan karena mereka memiliki fasilitas raiser untuk membesarkan ikan hias. Fasilitas serupa itu baru saja dibangun di Cibinong. Selain harus sering-sering mempertemukan eksportir dan importir langsung, menurut Hendra, pemerintah juga harus membenahi beberapa aturan yang relevan. "Banyak ketentuan pemerintah yang tidak mendorong daya saing ikan hias Indonesia," katanya. Ia menunjuk ketentuan soal ekspor arwana tadi. Menurut Hendra, Menteri Kehutanan menetapkan arwana hanya sebagai satwa buru untuk upacara adat, pangan, dan penangkaran. T

api, akibat aturan tersebut, ikan ini lantas banyak dicari dan harganya menjadi mahal. Tambah lagi, "Ikan ini tetap bisa keluar negeri lewat penyelundup," kata Hendra. Soalnya, jardini ini tidak masuk daftar larangan CITES. Maka, kata Hendra, ada pembeli Eropa yang heran karena ia tidak bisa mendapatkan arwana di Indonesia, tapi malah bisa membelinya di Singapura. Nah, lo! Tawarkan Ikan AndalanHendra Iwan Putra, Sekretaris Jenderal Indonesia Tropical Fish Exporters Association (Inafish), mengatakan bahwa Indonesia merupakan surga bagi ikan hias. "Negara kita itu sumber ikan hias yang bagus," ujar Hendra.

Ia mencontohkan, banyak ikan hias dari Afrika yang bisa dibudidayakan di sini, lalu diekspor. Saat ini saja, kita sudah membudidayakan sekitar 300 jenis ikan hias. Selain ikan hias hasil budi daya, ada dua ikan asli habitat Indonesia yang banyak peminatnya. Yakni arwana dan botia. Ada tiga jenis arwana: arwana jardini dari Papua, arwana super-red dan hijau dari Kalimantan, serta arwana golden red yang bisa diperoleh di Sumatra, Riau, dan Jambi. Adapun sentra ikan botia adalah Pontianak dan Jambi. Ikan hias jenis ini belum ditangkarkan, karena pasokannya konon bisa sampai ratusan juta ekor saat sedang musim.

Dua jenis ikan inilah yang seharusnya bisa mendongkrak lagi popularitas Indonesia di pasar ikan hias internasional. Raiser Ikan Hias CibinongDepartemen Kelautan dan Perikanan telah membangun pusat pengembangan dan pemasaran ikan hias di Cibinong. Menurut Suwandi Surya, Direktur Raiser Ikan Hias di Cibinong ini, mereka membuat raiser untuk menampung ikan dari petani dan kemudian menjualnya kepada eksportir. Jadi, nantinya di sini bisa menjadi pusat perdagangan ikan hias di Indonesia.

Raiser tersebut berdiri di atas lahan seluas 17,6 ha, tapi sampai sekarang baru 5 ha yang selesai dibangun. Fasilitas yang sudah selesai pembangunannya, antara lain, gedung pengelola yang terdiri dari dua lantai untuk ruang pameran dan memajang ikan hias asli Indonesia. Kemudian ada gedung karantina, yang terdiri dari akuarium berukuran 1 m x 0,5 m x 0,5 m sebanyak 396 buah, gedung raiser dengan 108 akuarium, dan bak penampungan berukuran 2 m x 2 m x 0,5 m sebanyak 216 buah.

Menjajal tawaran minimarket syariah ala PNM

Minimarket di kota memang sudah berjibun. Tapi, di daerah dan desa, peluang bisnisnya masih besar. Jika tertarik, ada tawaran minimarket syariah dari PNM. Dengan pasokan minimal 1.000 item barang berharga grosir, usaha bermodal Rp mulai 225 juta ini bisa balik modal dalam 3 tahun. Minimarket bisa dikatakan kembangnya jalan di kota-kota besar. Di Jakarta dan sekitar misalnya, minimarket telah bercokol hampir di semua ruas jalan, mulai jalan besar hingga kompleks perumahan.

Saking banyaknya, belanja di toko ritel modern ini sama gampang dengan belanja di warung tetangga. Tapi, di pelosok pedesaan, kehadiran toko modern dengan pendingin ruang plus aneka barang tertata apik, hmm..., ini termasuk baru. Apalagi jika harga jualannya tak kalah dari harga barang di pasar atau warung, tentu minimarket bakal menyedot banyak pembeli. Inilah yang sedang ditawarkan Permodalan Nasional Madani (PNM) lewat jaringan minimarket miliknya: Madani Mart. "Orang desa kalau mau belanja sembako atau elektronik kan selalu ke kota, jadi harus keluar ongkos transportasi," ujar Erwin Mardjuni, Direktur PNM. "Dengan kehadiran Madani Mart, mereka tak perlu ke kota. Duit ongkosnya bisa ditabung, deh," sambungnya.

Setelah sukses dengan proyek pionir Madani Mart di Aceh pasca-tsunami, kini perusahaan plat merah ini menawarkan kerja sama pembukaan gerai Madani Mart ke masyarakat luas. Tapi, untuk saat ini, peluang baru terbuka di daerah yang sudah memiliki PNM Daerah atau afiliasinya yang saat ini sudah ada di 18 provinsi. Oh, ya, meski fokus di daerah-daerah, peluang membuka Madani Mart juga terbuka di perkotaan, asal pasarnya ada. "Ini sistemnya waralaba plus atau kami sebut mitralaba," kata Budi Hartanto, Kepala Bagian Business & Trade Services PNM.

Seperti waralaba, PNM lewat perpanjangan tangannya, PT Madani Mart Indonesia (MMI), akan memberikan pembinaan, mencarikan pasokan barang, dan memberi hak penggunaan nama Madani Mart kepada si mitra.Berbeda dari franchise konvensional, dalam sistem mitralaba yang menganut paham syariah ini tak ada franchise fee. "Kami memungut biaya inisiasi, dan ini hanya dibayarkan sekali," tandas Budi. Selain itu, dalam sistem mitralaba ini juga tak ada royalty fee atau management fee yang besarnya dihitung dari omzet.

Nah, sesuai prinsip syariah, dalam sistem mitralaba ini ada sistem bagi hasil kepada pihak-pihak yang terkait operasional gerai. Dan, memang cukup banyak pihak yang akan menikmati bagi hasil ini. Pertama, PNM selaku pemegang merek akan memperoleh bagi hasil sebesar 5% dari laba bersih per bulannya. Kedua, MMI selaku national head office (NHO) akan memperoleh pembagian keuntungan 15%. MMI bertugas menyiapkan sistem serta koordinasi jaringan secara nasional.

Perusahaan yang mempekerjakan beberapa mantan pegawai di perusahaan ritel besar inilah yang melakukan deal dengan produsen barang seperti Unilever dan perusahaan consumer goods lainnya. "Kami memperoleh harga yang sama dengan harga pembelian hipermarket," imbuh Budi. Ketiga, PNM Daerah yang bertugas melakukan koordinasi di daerah akan memperoleh pembagian keuntungan 10%. Keempat, regional holding office (RHO), yang mengurusi pasokan barang ke seluruh gerai Madani Mart, menentukan harga jual di setiap gerai. RHO memperoleh pembagian keuntungan 15%.

Barang tambah banyak, pembeli meningkatPihak kelima, adalah si mitra yang memiliki dan mengoperasikan gerai Madani Mart sendiri. Mitra ini bisa berupa koperasi, perusahaan, atau individual. Ada tiga tipe investasi yang bisa jadi pilihan calon mitra dengan modal sekitar Rp 225 juta-Rp 325 juta dengan luas ruang 50 m2-150 m2 (lihat tabel: Tiga Paket dari Madani Mart). Oh, ya, selain berbagai barang industri yang pengadaannya dikoordinasikan secara nasional, sekitar 40% dari barang dagangan juga bisa berupa produk lokal. Misalnya, bahan makanan yang cepat rusak. "Pemilik gerai bisa mengajukan produk lokal yang ingin dijualnya kepada RHO," tandas Budi.

Yang unik pada sistem mitralaba Madani Mart ini adalah sistem harga berjenjang. Ada lima tingkatan harga di Madani Mart yang juga berfungsi sebagai grosir besar. Harga jual termurah diberikan kepada pembeli grosir sedang, disusul ke grosir kecil, pedagang warung, ke anggota, dan yang paling mahal ke pembeli ritel biasa. Pemilik gerai ini akan memperoleh pembagian keuntungan sebanyak 55% dari laba bersih gerai per bulan. Angka ini boleh jadi tampak kecil. Lalu, apa enggak mendingan buka toko sendiri saja? Budi meyakinkan, keuntungan pemilik toko dalam jaringan Madani Mart lebih besar dari pemilik toko biasa. "Dengan masuk ke jaringan Madani Mart, item barang yang mereka jual akan banyak, minimal 1.000 item, harganya pun murah," tandasnya.

Dengan item barang lebih beragam dan harga bersaing, menurut Budi, penjualan akan meningkat. Setidaknya, hal ini sudah dibuktikan Madani Mart milik KUD Usaha Tani yang berlokasi di Desa Air Putih, Indragiri Hulu, Riau. Sebelum bergabung dengan Madani Mart, toko yang berada di tengah perkebunan sawit ini hanya menjual sekitar 100 item barang. "Kami paling hanya bisa memenuhi 10% kebutuhan masyarakat di sini," beber Sutarno Kudin, Ketua KUD Usaha Tani.

Kini, setelah menjadi minimarket dengan lebih dari 1.000 item dagangan, kata Sutarno, mereka bisa memenuhi hampir semua kebutuhan masyarakat sekitarnya. Walhasil, omzet Madani Mart KUD Usaha Tani yang mulai beroperasi 28 Februari 2006 ini pun melejit. "Dulu omzet kami paling Rp 110 juta setahun. Setelah jadi Madani Mart, kini sebulan penjualan kami sudah sekitar Rp 165 juta sebulan, dengan laba bersih Rp 8 juta," beber Sutarno gembira. Dengan keuntungan segitu, Sutarno yakin modal sekitar Rp 250 juta yang mereka tanamkan bakal kembali dalam 3 tahun. Nah, Anda ataupun koperasi Anda kepengin jadi juragan minimarket di daerah?

Peluang baru: bisnis buku eksklusif

Kini mulai ngetren membuat buku eksklusif yang berisi kisah hidup, roman, atau tema lain yang dibuat khusus sebagai hadiah untuk seorang yang istimewa atau cendera mata pada sebuah pesta. Tentu ini menjadi ladang bisnis baru yang menarik, apalagi pemainnya masih sangat sedikit. Kapan ibu, pacar, pasangan hidup, atau orang-orang terdekat Anda berulang tahun? Tentu, jauh hari Anda sudah merencanakan hadiah yang berkesan buat mereka.

Setangkai bunga, sebutir berlian, atau ponsel seri terbaru memang merupakan hadiah yang romantis, tapi sudah tidak terlalu spesial lagi. Atau, jangan-jangan tahun lalu, Anda sudah memberikannya. Tak usah bingung. Kenapa Anda enggak mencoba memberinya sebuah buku yang dibuat dan dicetak khusus untuk seseorang yang istimewa? Isinya bisa berupa kisah perjalanan hidup ibu yang sudah berjuang keras membesarkan Anda. Atau, cerita roman perjalanan cinta Anda dengan sang kekasih.

Bisa juga berupa kumpulan puisi dan surat cinta yang dipadukan dengan foto-foto Anda berdua. Ditanggung yang menerima bakal terharu, dan surprise, deh!Membuat buku pribadi yang dicetak secara eksklusif macam ini memang mulai ngetren. Tak hanya untuk hadiah bagi orang terdekat, belakangan mulai banyak pula orang yang menjadikannya sebagai cendera mata pesta perkawinan, ulang tahun perkawinan, atau event bermakna lainnya. Soal pembuatan tak usah khawatir.

Anda tak perlu pusing menulis buku itu sendiri, sementara Anda tak berbakat menulis. Soal jumlah eksemplar buku, terserah Anda, mau satu eksemplar, ratusan atau jutaan eksemplar. Anda tinggal memesannya pada perusahaan yang kini menawarkan jasa pembuatan buku pribadi dan eksklusif ini. Tarifnya beragam, mulai dari berapa ratus ribu hingga jutaan per eksemplar. Ya, munculnya kebutuhan untuk membuat buku-buku yang dibuat dan dicetak dalam jumlah sedikit ini tentu saja telah memunculkan peluang bisnis baru. Namanya juga bisnis baru, pemainnya masih sedikit, mungkin cukup dihitung dengan jari di sebelah tangan.

Salah satu pemain terbesarnya adalah Kisah Personal Publishing yang mulai menawarkan jasa pembuatan buku eksklusif ini sejak 2004. Awalnya, kata Christian Soeseno, Managing Director Kisah Personal Publishing, dia mencoba membuat sebuah wedding story book, dan ternyata berhasil. "Produk baru mendapat sambutan sangat bagus, permintaannya pun ada," ungkapnya bersemangat. Kini, salah satu divisi perusahaan Subur Printing Network ini tak hanya menawarkan pembuatan buku eksklusif untuk pernikahan.

Dia juga bisa membikin potongan-potongan cerita kehidupan, otobiografi, baby book, atau tema lain sesuai dengan permintaan pelanggan. Soal jumlah pesanan, teknologi cetak digital memungkinkan pelanggan bisa mengorder satu eksemplar sekalipun. "Kami bisa menerima order walaupun hanya satu atau dua eksemplar," ujar Christian.Ladang bisnis baru bagi percetakanTren memberi hadiah atau cendera mata berupa buku eksklusif ini jelas menjadi peluang usaha yang menarik untuk dijajal. Apalagi, pemainnya sampai saat ini memang masih amat sedikit.

Peluang usaha ini bisa dilakukan banyak kalangan. Baik oleh mereka yang sudah punya bisnis percetakan seperti Subur, maupun oleh para penulis, fotografer, atau oleh mereka yang yakin bisa mencari banyak pelanggan. Yang paling mudah masuk ke bisnis ini tentu saja mereka yang sudah bergerak di bisnis percetakan. Dengan begitu, mereka tak perlu keluar modal untuk membeli mesin cetak. Maklum, harga mesin cetak lumayan besar. "Untuk membeli seunit mesin cetak sederhana, Anda butuh modal sekitar Rp 45 juta-Rp 50 juta," ujar Galuh Wahyono, pemilik PT Inti Warna, percetakan yang berlokasi di Bintaro, Tangerang.

Kalau sudah punya mesin, tentu Anda tinggal mencari tenaga penulis untuk menulis atau menyusun buku tersebut. Urusan mencari penulis ini tidak susah. Selain ada begitu banyak penulis lepas, banyak pula para penulis atau jurnalis yang bersedia menulis di luar tugas tetapnya sebagai pekerjaan sampingan. Tapi, tentu Anda harus memilih yang benar-benar bisa menulis dengan struktur bahasa dan logika yang baik, serta indah. Agar bisa menghasilkan buku yang merupakan karya seni dan koleksi yang baik, "Konsep buku itu harus dipikirkan dengan matang," ujar Christian.

Konsep ini bisa merupakan gabungan ide Anda, penulis, fotografer, dan tim desain Anda. Oh, ya, selain penulis, pemilik percetakan juga sebaiknya menjalin kerja sama dengan seorang fotografer. Ini untuk mengantisipasi jika koleksi foto-foto milik si pelanggan ternyata tak cukup untuk dimuat di buku pesanan pelanggan. Dan, tentu saja, Anda juga harus merekrut tenaga desain grafis yang andal, sehingga setiap buku memiliki tata letak dan cover yang khas dan eksklusif. Bagi para pengusaha percetakan, jika berhasil mendapatkan order, bakalan bisa menikmati tambahan penghasilan yang lumayan.

Sebab, menurut Christian, dari tarif Rp 300.000 hingga Rp 7 juta per eksemplar yang ditawarkannya ke pelanggan, pihaknya bisa menikmati margin hingga 25%. Peluang bisnis bagi para penulisTak hanya bagi pemilik usaha percetakan, bisnis pembuatan buku ekslusif ini juga bisa menjadi ladang bisnis bagi para penulis atau Anda yang mahir menulis dengan baik. Anda tinggal mencari pelanggan, lalu membuat konsep dan isi buku yang bagus. Soal percetakan, Anda tinggal menyerahkan ke percetakan.

Di pasaran ada banyak percetakan dengan teknologi digital yang siap mengerjakan pesanan dalam kuantitas kecil. Dan, kalau Anda rutin memperoleh orderan, Anda bisa memperoleh diskon khusus. Usaha begini sebenarnya sudah cukup banyak dilakoni oleh para penulis atau jurnalis. Salah satunya seperti dilakoni Imran Hasibuan, seorang penulis dan juga Direktur Q Communication, sebuah perusahaan konsultan media. Lewat jaringan perkenalannya yang lumayan luas sebagai penulis dan konsultan media, Imran telah mengerjakan banyak buku berisi otobiografi orang-orang terkenal, salah satunya otobiografi Taufik Kiemas. "Untuk mencari pelanggan, saya enggak pakai marketing khusus, cukup dengan kedekatan sama calon klien," beber Imran.

Soal percetakan, bekas wartawan Majalah Forum ini mengaku tak melulu pakai percetakan tertentu. Setiap ada order, dia mencari percetakan yang layanannya bagus dan harganya bersaing. "Yang penting dalam memilih percetakan adalah kualitas cetaknya, karena kualitas cetakan sangat penting dalam bisnis ini," tambah Imran yang mematok fee sekitar 30% dari tiap buku yang ia kerjakan.Ya, yang paling penting dalam bisnis ini memang memperoleh order. Kalau sudah dapat order, meski tak punya percetakan sendiri atau bahkan juga tak bisa menulis, Anda tetap bisa menikmati untung. Kuncinya, Anda harus punya jaringan yang kuat serta kreatif menciptakan konsep buku yang menarik bagi pelanggan. Tertarik untuk mencoba?

Montir Tersedia Fulus Mengalir

Populasi sepeda motor yang sangat besar dan terus bertumbuh membuat bisnis bengkel tetap berkibar. Salah satu jalan masuk ke bisnis ini adalah lewat waralaba seperti yang ditawarkan HMTC Workshop. Jika berhasil menggaet pelanggan dan mampu bersaing, terwaralaba bisa segera balik modal. Mencari ladang bisnis yang pas memang susah-susah gampang. Melakukan bisnis di seputar hobi atau menjajal bisnis yang sedang marak, itu merupakan rumus yang banyak dipakai orang.

Satu lagi, melakoni bisnis yang pasarnya memang besar. Untuk yang terakhir ini, bisnis di seputar sepeda motor-seperti bengkel-bisa menjadi alternatif. Maklum, pasarnya memang luar biasa besar. Saat ini populasi sepeda motor di Indonesia diperkirakan mencapai 35 juta unit. Tentu, jumlah ini akan terus bertambah seiring turunnya suku bunga dan mahalnya harga BBM. Dengan pasar sebesar itu, tak heran jika bisnis bengkel seolah tak ada matinya. Malah jumlahnya terus bertambah dari hari ke hari. Ada yang menjadi bengkel resmi salah satu merek sepeda motor.

Tapi, ada juga yang membuka bengkel independen yang melayani sepeda motor dari segala merek. Bahkan, kini orang juga bisa membuka bengkel dengan sistem waralaba. Salah satu pihak yang menawarkan waralaba bengkel adalah HMTC, singkatan dari Hartomo Mechanical Training Center. Betul, HMTC adalah sekolah montir yang cukup terkenal. Sejak Februari 2006 lalu, HMTC telah membuka usaha bengkel sepeda motor independen, dengan nama HMTC Work Shop. "Gagasannya muncul dari peserta kursus montir, yang sehabis kursus ingin membuka bengkel dengan nama HMTC," ujar Hartomo Koes Alam Syahrir, Presiden Komisaris PT Hartomo Cipta Mekanik, sekaligus pendiri HMTC Hartomo pun menyambut gagasan itu dan membuka bengkel HMTC Workshop, sekaligus untuk mewadahi alumni HMTC yang sudah berjumlah belasan ribu mekanik.

Nah, lantaran Hartomo sudah membuka sekolah montir di pelbagai kota lewat skema waralaba, ia pun mengembangkan bengkelnya dengan jalur serupa. Walau HMTC masih terbilang hijau berkiprah di dunia bisnis otomotif roda dua, toh Hartomo yakin waralaba bengkelnya bakal sukses. "Saya berkunjung ke pelbagai daerah, dan pada umumnya mereka tahu apa itu HMTC. Jadi, saya yakin," ujarnya. Selain itu, menyiasati ketatnya persaingan di bisnis perbengkelan sepeda motor, HMTC pun memilih bermain di segmen pasar menengah bawah. Dengan begitu, gerai HMTC tidak akan berhadapan langsung dengan bengkel-bengkel besar atau bengkel resmi dari sebuah merek.

Sejak ditawarkan enam bulan lalu, HMTC sudah menjaring tiga pewaralaba. Satu di Depok, Jawa Barat; dan dua lagi di wilayah Jakarta Timur. "Ada 4 calon terwaralaba lagi yang berminat," ujar Nengah Saputra, General Manager PT Hartomo Cipta Mekanik.Modal dan iuran waralaba pakai dolarLaiknya sistem waralaba, HMTC juga mematok sejumlah persyaratan bagi investor yang berminat. Ada dua persyaratan utama.

Pertama, calon terwaralaba harus memiliki lokasi bengkel yang memadai. Lokasinya harus strategis, yakni ramai dilalui kendaraan roda dua. Selain itu, lokasi tersebut juga berjarak minimal 5 kilometer dari gerai HMTC lain. Kalau sudah punya lokasi, calon terwaralaba harus menghubungi kantor HMTC terdekat. Selanjutnya, tim HMTC Workshop akan menyurvei lokasi Anda, lalu kemudian membuat bagan (lay-out) bengkel. Jika Anda sreg dengan bagan itu, HMTC akan membuat rancangan awal perjanjian kerja sama yang mengatur antara hak dan kewajiban antara HMTC dan mitranya. Persyaratan kedua: modal. HMTC mematok jumlah investasi dalam mata uang dolar AS. Yakni, sebesar US$ 4.000 untuk bengkel ukuran 30 m2-50 m2. "Kami pakai dolar karena sekitar 70% peralatan bengkel adalah impor," ujar Nengah. "Lagi pula ini untuk menghindari ketidakpastian harga," timpal Hartomo.

Oh, ya, dana sebanyak US$ 4.000 itu akan dipakai buat pengadaan peralatan bengkel, pembuatan logo, promosi, serta iuran waralaba (franchise fee) sebesar US$ 1.500 untuk tahun pertama. Tahun selanjutnya, si terwaralaba harus membayar franchise fee kembali sebesar US$ 1.500 per tahun. "Franchise fee ini untuk biaya operasional kami dalam menunjang pengembangan bisnis mitra," kata Nengah. Selain dana sebesar US$ 4.000 itu, terwaralaba juga harus menyediakan dana tambahan yang jumlahnya sekitar Rp 35 juta lagi. Dana ini untuk biaya merenovasi bengkel, membeli suku cadang, aksesori sepeda motor, dan lain sebagainya.

Harus tahu politik bengkelKalau urusan renovasi dan penyediaan barang dagangan sudah beres, terwaralaba tinggal mengelola bengkelnya. Bagaimana soal tenaga montir yang menjadi ujung tombak bisnis ini Tak usah repot dan pusing mencari tenaga montir yang kadang susah didapat. Pasalnya, HMTC-lah yang akan menyediakan tenaga-tenaga montir hasil didikan di sekolah montirnya sendiri. "Kami memberikan mekanik yang terbaik," janji Nengah.Selanjutnya, terwaralaba akan memperoleh pelatihan mengenai seluk-beluk bisnis bengkel sepeda motor dan strategi pemasaran dari HMTC. "Atau istilahnya politik perbengkelan," kata Nengah. Nengah memberi contoh.

Katakanlah di satu wilayah terjadi banyak bengkel yang menyebabkan persaingan merebut konsumen menjadi sengit. Ada baiknya si mitra membuat terobosan. "Misalnya, buat promo lima kali servis dapat satu kali gratis," tuturnya, "Atau, gaet para tukang ojek dengan biaya servis yang lebih miring." Nah, jika semua berjalan lancar dan saban hari bengkel meladeni minimal lima transaksi, Nengah yakin, dalam waktu sekitar setahun terwaralaba sudah bisa balik modal. Namun, target lima pelanggan per hari itu ternyata agak susah juga tercapai. Setidaknya itulah yang dialami gerai HMTC Workshop di Depok yang baru berusia sebulan. Menurut sebuah sumber di situ, setiap hari paling ada dua pelanggan. Dan, baru pada akhir pekan jumlahnya naik menjadi lima pelanggan. Meski begitu, Johanes Wardi, seorang konsultan keuangan, tetap tertarik dan siap membuka gerai HMTC Workshop di bilangan Bukit Duri, Jakarta Selatan, September ini. "Saya yakin bisa jalan karena ikut HMTC yang sudah punya nama," tambahnya.

Jadi Mak Comblang ke Dunia Maya

Bisnis internet memang bertumbuh pesat. Sayang, banyak orang enggan menjajal. Selain sarat teknologi, modal berbisnis penyedia jasa internet juga besar. Tapi, kini ada tawaran waralaba dari Diginet, penyedia jasa internet dengan sistem nirkabel, yang hanya butuh modal Rp 201 juta. Simak peluang dan tantangannya. Koneksi internet 24 jam sehari dengan biaya hanya Rp 200.000 per bulan!

Penawaran ini jelas bakal menarik minat para eksekutif, karyawan, siswa, atau siapa saja yang sudah kecanduan atau membutuhkan keleluasaan mengakses internet. Selama ini orang sering terpaksa mengekang diri agar tidak terlalu berlama-lama berselancar di dunia maya. Maklum, biayanya mahal, Bo! Apalagi jika harus bayar sendiri. Ambil contoh, jika kita melakukan koneksi internet dengan jaringan Telkomnet Instan, biayanya Rp 165 per menit atau Rp 237.000 untuk 24 jam, atau Rp 7,11 juta sebulan.

Mau akses internet di warnet terdekat, biayanya juga tetap mahal. Saat ini tarifnya sekitar Rp 5.000-Rp 10.000 per jam atau Rp 120.000-Rp 240.000 dalam 24 jam. Melihat tarif yang mahal itu, jika ada tawaran akses internet 24 jam selama sebulan penuh dengan tarif hanya Rp 200.000, boleh jadi akan banyak yang tertarik. Adalah PT Digital Wireless Indonesia yang mengusung nama dagang Diginet, satu dari sedikit pemain, yang belakangan ini gencar menawarkan akses internet murah. Diginet mengaku sedang gencar memasang jaringan internet dengan memakai gelombang radio (wireless) di Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai penyedia jasa internet, Diginet tinggal memasang menara base transceiver station (BTS) setinggi kira-kira 35 meter. Selanjutnya, rumah-rumah yang berada di dalam radius 2 km dari BTS dan telah memasang antena khusus bisa langsung terhubung dengan internet. "Kami mulai Januari 2006, dan kini sudah menjaring lebih dari 400 rumah sebagai pelanggan," ujar Andi Santoso, Direktur Utama PT Digital Wireless Indonesia. Meski perolehan pelanggannya tak spektakuler, Andi yakin sebenarnya pasar yang bisa digarap masih sangat besar. Cuma, untuk itu mereka butuh tambahan modal yang cukup besar. "Makanya kami menawarkan waralaba," kata Andi. Tanggapan pasar lumayan positif.

Sejak ditawarkan April 2006, Diginet berhasil menjaring beberapa mitra waralaba di wilayah Kelapa Gading, Kemang, Bogor, dan Bekasi. Kini, kata Andi, Diginet masih menawarkan waralaba untuk wilayah-wilayah yang masih kosong. Oh, ya, satu wilayah itu dalam kategori Diginet luasnya 5 km2 - 6 km2 yang berisi lebih 10.000 keluarga. Pasar internet terus berkembangDalam sistem waralaba ala Diginet ini, terwaralaba hanya bertugas memasarkan, memasang, dan melakukan service serta maintenance di wilayahnya. Untuk itu, terwaralaba harus mempunyai internet service point dan sebuah gerai seluas 3 m x 4 m.

Untuk membangun semua fasilitas dan menjalankan bisnis waralaba ini, terwaralaba harus menyiapkan modal yang besarnya minimal Rp 201 juta termasuk franchise fee. Ya, meskipun umumnya sistem waralaba ditawarkan oleh perusahaan yang sudah terkenal dan telah beroperasi minimal 5 tahun, Diginet tetap memungut franchise fee. Besarnya Rp 49,5 juta untuk 3 tahun (lihat tabel: Ilustrasi Bisnis Waralaba Diginet). Laiknya sistem waralaba, tentu Diginet akan memberikan pelatihan sistem dan hak penggunaan namanya pada terwaralaba. Namun, lantaran Diginet juga baru berdiri dan belum benar-benar terkenal, tentu terwaralaba tak bisa terlalu mengandalkan nama pewaralabanya itu.

Toh, menurut Andi, cukup banyak yang berminat jadi terwaralabanya. Salah satunya Rudi Wanto, terwaralaba Diginet yang membuka usahanya di Kelapa Gading sejak sebulan lalu. "Pasarnya yang besar dan pemainnya yang sedikit membuat saya yakin pada prospek bisnis ini," ujar Rudi. Cuma, ia mengaku belum bisa memastikan bagaimana tanggapan pasar. Soalnya, "Saya belum melakukan promosi besar-besaran, menunggu habis musim liburan ini," paparnya lagi. Dengan penduduk yang begini banyak, bisnis internet di Indonesia memang masih menjanjikan. Sebab, jumlah pemakai internet di Indonesia masih sedikit dan akan terus bertumbuh cepat.

Menurut data Diginet, sampai 2005, jumlah pelanggan internet di Indonesia baru 16 juta. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah cepat. Lihat saja, dalam empat tahun terakhir pertumbuhan jumlah pengguna internet bertumbuh cepat. Tahun 2000, pertumbuhannya baru 14,8%. Tahun lalu pasarnya telah bertumbuh 37,94%. Hati-hati, teknologinya rentanBagaimana keuntungan bisnis ini? Menurut Andi, terwaralaba akan memperoleh 30% dari iuran bulanan sebesar Rp 220.000 dari pelanggan rumahan di daerahnya. Terwaralaba juga bisa memperoleh penghasilan tambahan jika berhasil menjaring korporasi sebagai pelanggan.

Terwaralaba akan memperoleh pembagian pendapatan 10% dari tarif korporasi yang besarnya Rp 2,2 juta sampai 30 juta per bulan. "Jika terwaralaba bisa mendapatkan 1.000 keluarga saja, dalam 2 tahun sudah balik modal," ucap Andi.Namun, bagi mereka yang berminat pada waralaba Diginet ini, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan di luar soal usia Diginet yang masih muda tadi. Pertama, terwaralaba harus jeli memilih wilayah operasionalnya.

Pasar yang bisa digarap memang besar, namun tidak semua keluarga ingin dan mampu memasang internet di rumahnya. Menurut Andi, target utama mereka adalah wilayah perumahan kelas menengah yang biasanya ada di pinggiran Jakarta. Kedua, kalaupun sudah ketemu pasar yang berminat pada internet, belum tentu mereka mau memakai sistem koneksi internet wireless. Teknologi ini memang murah meriah. Tapi, dia juga rentan terhadap berbagai gangguan, sehingga koneksi internet nirkabel yang seharusnya bisa berkecepatan 64 kbps itu bisa saja tak bekerja. Contohnya, antena di atap rumah pelanggan tidak boleh terhalang pohon atau bangunan agar gelombang dari BTS bisa tertangkap.

Selain itu, gelombang frekuensi radio 2,4 GHz yang dipakai untuk koneksi internet ini adalah frekuensi bebas yang bisa dipakai siapa pun. Artinya, kalau ada orang lain yang memasang pemancar kuat di daerah antara BTS dan pelanggan, koneksi internet juga bisa terganggu; bahkan bisa tak bekerja sama sekali. "Kalau sudah begini, biasanya kami akan mencari orangnya dan duduk bareng. Frekuensi itu kan punya 12 kanal, kita aturlah supaya bisa berbagi," kata Andi. Nah, setelah mengetahui peluang, potensi keuntungan dan kendalanya, sekarang silakan Anda memutuskan sendiri, mau masuk atau tidak ke bisnis ini.

Peluang Bisnis Makanan & Minuman Organik, Sehat dan Bergizi Tinggi

Healthy Choice Indonesia menawarkan waralaba untuk membuka toko dan restoran organik. Peluangnya masih terbuka lebar, tapi modal yang dibutuhkan lumayan besar. Terwaralaba juga harus tekun mempromosikan produknya. Empat tahun lalu, banyak orang memandang sebelah mata bisnis yang dirintis Stevan Lie.

Bagaimana tidak? Di saat penikmat makanan organik masih sangat terbatas, Stevan nekat membuka sebuah toko yang khusus menjual makanan dan minuman organik bernama Healthy Choice Indonesia. Di tempat itu, ia juga membuka restoran yang khusus menyajikan resep-resep makanan dan minuman organik. "Waktu itu, kami benar-benar seperti orang aneh," kenang Stevan, yang juga menjabat sebagai Direktur Operasional Healthy Choice. Kenekatan Stevan itu tentu saja mengandung risiko.

Di awal-awal bisnisnya, ia pun sering merugi karena harus membuang bahan makanan dan minuman yang kedaluwarsa. Maklum, biarpun lebih sehat, harga makanan dan minuman bisa tiga sampai empat kali lipat harga makanan dan minuman biasa. Jadi, tak perlu heran jika bahan-bahan yang dibuang itu jumlahnya acap jauh lebih banyak dibandingkan dengan bahan-bahan yang berhasil dijual. Tapi, kondisi ini tak lantas membuat Stevan menyerah. Ia tetap bertahan sambil terus mempromosikan manfaat bahan-bahan organik. Sekarang, keuletan Stevan sudah mulai membuahkan hasil.

Dari waktu ke waktu jumlah konsumen Healthy Choice terus bertambah. Menurut Stevan, ada tiga jenis konsumen di Healthy Choice. Yang pertama, orang-orang berusia 40 tahun ke atas yang mulai ingin mencari-cari makanan sehat. Lalu, yang kedua adalah orang-orang yang "terpaksa" mengonsumsi makanan organik karena pernah mengalami masalah kesehatan yang serius seperti bypass jantung atau stroke. Terakhir, konsumen Healthy Choice berasal dari pasangan-pasangan muda yang ingin memberikan makanan yang terbaik bagi bayinya. "Biasanya mereka masih belum mau membeli makanan organik bagi diri mereka sendiri; tapi mereka membeli makanan organik untuk bayinya," tutur Stevan.

Nah, kelompok terakhir inilah yang berkembang dengan sangat cepat. Apalagi selain bayinya, belakangan, para pasangan muda itu sendiri juga mulai ikut mengonsumsi makanan maupun minuman organik. Memang, tidak semua pasangan muda masuk dalam golongan ini. Umumnya, penggemar makanan organik itu datang dari lapisan orang-orang di kelas ekonomi A dan A plus. Meskipun begitu, secara total, pertumbuhan pasar Healthy Choice tetap menakjubkan. "Dalam satu tahun terakhir saja, pasarnya bisa tumbuh empat kali lipat," kata Stevan lagi.

Lantaran melihat perkembangan pasar yang sangat pesat itulah, Stevan ingin terus membuka gerai-gerai Healthy Choice baru. Total, saat ini Stevan mengaku telah memiliki lima gerai Healthy Choice plus beberapa konter di Sogo Department Store. Sayangnya, ia merasa tak akan sanggup untuk bisa mengawasi terlalu banyak gerai sekaligus; apalagi kalau gerai itu yang berada luar kota Jakarta. So, mulai tahun ini, Stevan berusaha mencari mitra baru melalui skema waralaba (franchise). Ada dua jenis paket waralaba yang ditawarkan Stevan. Yang pertama, paket waralaba gerai Healthy Choice.

Ini adalah gerai toko swalayan dan restoran yang menjual berbagai bahan makanan dan minuman organik. Sebenarnya, konsep gerai Healthy Choice yang asli mengusung konsep 3 in 1, yakni terdiri dari toko, restoran, dan klinik detox. "Tapi, untuk klinik kami belum berani mewaralabakan karena rekanannya harus memiliki keahlian khusus," terang Stevan.Butuh modal awal Rp 1 miliar hingga Rp 2,5 miliarUntuk bisa membuka gerai Healthy Choice ini, tentu saja, pertama-tama calon terwaralaba (franchisee) harus memiliki tempat usaha yang memadai dan strategis. Kawasan rumah toko (ruko) yang berada di dekat perumahan bisa menjadi tempat yang ideal untuk usaha ini. Memang, terwaralaba bisa juga membuka gerai swalayan dan restoran organik ini di mal.

Konsekuensinya, ia harus menanggung ongkos sewa yang supermahal. Soalnya, untuk membuka gerai ini, franchisee harus menyediakan lahan hingga 150 m2. "Padahal, sewa mal kelas A sudah mencapai Rp 100.000-150.000 per m2. Nanti biaya sewanya bisa-bisa puluhan juta per bulan," ujar Stevan lagi. Jika tetap ingin membuka gerai di mal, calon terwaralaba bisa menjajal paket waralaba yang kedua, yakni paket gerai Organic To Go. Gerai ini hanya membutuhkan ruangan yang luasnya minimal 70 m2, sehingga cocok dibuka di mal atau kawasan perkantoran. "Bentuknya semacam gerai yang menyediakan fast food tapi bukan junk food," terang Stevan. Selain tempat, tentu saja, calon franchisee juga harus menyediakan modal berupa duit tunai. Lumayan besar, lo.

Untuk paket waralaba gerai swalayan dan restoran Healthy Choice, modal awal yang harus disediakan sekitar Rp 2,5 miliar. Sementara itu, modal awal untuk membuka Organic To Go sekitar Rp 1 miliar. Uang sebanyak itu akan dipakai untuk membiayai beberapa keperluan: mulai dari franchise fee, renovasi tempat, peralatan, dan pelatihan karyawan.Cuma, menurut Stevan, memiliki tempat strategis dan modal besar doang tak cukup untuk bisa membuka gerai Healthy Choice maupun Organic To Go. Ada satu persyaratan lagi: calon terwaralaba harus memahami seluk-beluk makanan maupun minuman organik. Kalau perlu, ia juga melahap makanan tersebut. "Kan susah menerangkan kepada orang lain kalau dia sendiri belum menerapkan hidup sehat," tambah Stevan.

Harus sabar menggarap pasar biar cepat berhasil, terwaralaba harus mau terjun langsung mengurus bisnisnya. Kalau perlu ia harus ikut cerewet mempromosikan dan menjelaskan kelebihan produk-produk yang dijajakannya. Bayangkan, seorang ibu rumah tangga biasa tentu akan bingung melihat satu kemasan selai stroberi organik diberi banderol harga Rp 80.000. Padahal, di toko biasa, selai serupa hanya dijual dengan harga Rp 20.000. Nah, terwaralaba harus bisa menerangkan bahwa selai itu tanpa pewarna, tanpa pengawet, dan berasal dari bahan-bahan organik yang bebas pestisida. Shierley Boedihartono, terwaralaba Healthy Choice Indonesia, melihat prospek bisnis ini akan bagus.

Tapi, "Kami harus banyak melakukan edukasi untuk bisa mengembangkan pasar," ungkap Shierley, yang membuka gerai di Surabaya. Dia yakin, dalam setiap keluarga pasti ada anggotanya yang mengalami masalah kesehatan. "Tapi, untuk bisa mengubah kebiasaan makan memang susah," tambah Shierley.Jika semuanya lancar, menurut hitungan Stevan, dalam waktu sekitar dua sampai dua setengah tahun modal terwaralaba akan kembali. Cuma, pada prakteknya, bukan tidak mungkin waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi. Shierley, misalnya, mengaku mengalami awal-awal bisnis yang agak berat. Maklum, di Kota Buaya itu jumlah masyarakat yang mengenal makanan organik memang masih sedikit. "Saya belum menghitung kapan bisnis ini akan balik modal," cetus Shierley.

Tambah Untung dari Kurir VIP, Peluang usaha agen RPX layanan premium

Dengan modal Rp 17 juta, Anda sudah bisa menjadi mitra agen RPX. Jika bisnis berjalan lancar, modal segitu bisa kembali dalam satu tahun. Siapa pun yang mempunyai barang atau dokumen berharga sudah pasti akan menjaganya dengan hati-hati. Apalagi jika Anda ingin mengirim barang atau dokumen itu kepada pihak lain yang memiliki hubungan penting dengan Anda. Kalau bisa, tentu Anda ingin mengirimkan barang itu sendiri. Dengan begitu, selain bisa menjaga sendiri keutuhan barang tersebut, Anda juga bisa memastikan bahwa barang tersebut sampai ke alamat yang ingin dituju.

Mengirimkan barang sendiri seperti itu bisa Anda lakoni jika jarak tempuhnya tidak jauh-jauh amat. Tapi, jika lokasi yang ingin dituju berada di luar kota, luar pulau, atau luar negeri; tentu Anda akan kerepotan. Kebutuhan pengiriman yang spesial seperti inilah yang kemudian menjadi kue bisnis yang sangat menarik bagi perusahaan jasa titipan kilat. RPX menjadi salah satu perusahaan kurir dan kargo (logistik) yang serius menggarap pasar ini. Baru-baru ini, RPX meluncurkan tiga layanan terbaru yang dikhususkan bagi para pelanggan yang membutuhkan jasa pengiriman barang spesial.

Servis yang pertama bernama golden package. Sesuai dengan namanya, jasa kurir yang satu ini benar-benar eksklusif. Bagaimana tidak? Setiap pengiriman satu barang akan ditangani oleh satu kurir khusus; sejak mulai pengambilan barang sampai pengirimannya. Kurir itu juga akan ikut naik pesawat dan langsung menyerahkan barang kiriman ke alamat yang dituju dalam hitungan jam. Kelebihan lain, keberadaan kurir bisa dilacak. "Jadi, produk ini sifatnya langsung, tanpa melalui customer service untuk melayani," ujar M. Kadrial, Direktur Pengelola RPX Group. Layanan berikutnya adalah premium package yang menawarkan solusi pengiriman barang bagi pelanggan yang menginginkan kirimannya tiba di tujuan pada hari yang sama. "Tapi, kurirnya tidak ikut naik pesawat," kata Kadrial.

Terakhir adalah mid-day package. Ini merupakan servis pengiriman barang yang akan tiba di tempat tujuan di wilayah Indonesia pada hari berikutnya; sebelum jam 12.00 siang. Cocok untuk bisnis sampinganTapi, RPX tak ingin menjajakan sendiri servis-servis VIP-nya itu. Selain melalui cabang-cabang RPX, produk-produk baru itu juga akan ditawarkan melalui mitra agen resmi RPX yang disebut RPX-Authorized Ship Center (ASC). Karena itulah, skema kerja sama ASC mengalami sedikit perubahan. Selain menjadi mitra ASC yang standar , para mitra agen RPX yang sudah beroperasi juga bisa menjadi mitra ASC yang menawarkan produk-produk baru tadi.

Jika memilih pola terakhir ini, artinya mitra ASC bakal menawarkan lima produk; tiga produk baru dan dua produk yang sudah ada sebelumnya, yakni pengiriman paket domestik (priority package) dan internasional (international priority). Cuma, dari total ASC yang berjumlah 100 buah, belum tentu semuanya bisa menjajakan tiga jasa pengiriman terakhir tadi. "Kita akan melihat dan menyeleksi berdasarkan potensi pasarnya," ujar Kadrial. Dus, RPX akan melakukan penjajakan terlebih dahulu, apakah ketiga produk baru itu akan terjual oleh masing-masing ASC atau tidak.

Peluang Bisnis Sewa Tas & Asesoris Perempuan Buat Kaum Socialite

Ketimbang membeli tas pesta yang mahal, sebenarnya orang bisa berhemat dengan menyewa tas bermerek. Celah bisnis ini lantas disambar Smart Diva. Sebagai pemerhati selebriti, Anda tentu tidak asing dengan nama-nama Paris Hilton atau Christina Aguillera. Mereka adalah secuil selebriti kenamaan yang kerap disebut sebagai trend setter. Nah, sebagai warga Indonesia, sebenarnya tidak sulit mengikuti dandanan ala Paris Hilton. Baju dan perlengkapannya, seperti sepatu serta tas, tidak harus asli, to? "Beli saja di Blok M. Banyak kok pilihannya," celetuk seorang teman.

Tentu saja, tidak semua penduduk Indonesia mau mengaduk-aduk kawasan Blok M, Mangga Dua, atau Tajur demi mendapatkan sebuah tas mirip kepunyaan Paris Hilton. Maklum, bisa dipastikan kalau tas-tas di sana itu serupa tapi palsu. "Kalau kita datang ke event tertentu dengan tas palsu, kita pasti malu," tukas Jessica Schwarze, seorang manajer pemasaran sebuah perusahaan komputer kelas dunia. Tambah lagi, menurut pengalaman pribadi Jessica, orang-orang yang mengikuti mode harus selalu belanja tas, karena tuntutan penampilan. "Tapi, habis itu tasnya jarang dipakai lagi," ucapnya.

Acara belanja tas bermerek ini, tentu saja, membuang uang sampai puluhan juta rupiah. Pasalnya, konsumen kalangan atas lebih suka berburu tas di gerai-gerai mal kelas satu. Itu sebabnya, Jessica dan temannya, Amanda Sari, membayangkan ada perusahaan penyewaan tas bermerek di Indonesia. "Saat search di internet, saya menemukan Bagsborroworsteal di Amerika," kata Jessica. Perusahaan tersebut menyewakan tas bermerek ke seluruh Amerika.

Tanpa menunggu lama, Jessica dan Amanda pun segera membikin bisnis penyewaan serupa. "Itu ide yang bagus dan mereka sudah punya ratusan tas," kata Jessica. Ia meramalkan bahwa bisnis penyewaan tas bermerek sangat cocok di Jakarta, karena masyarakatnya brand-minded. Selain itu, mulai banyak acara di Indonesia yang ada karpet merahnya. Karpet ini bukan sembarang gelaran menuju pintu masuk saja, karena lazimnya di kanan kiri karpet dipenuhi oleh fotografer berbagai media. Alhasil, bagi sebagian orang, karpet merah menjadi catwalk. "Pasti semua orang ingin tampil oke di red carpet," ujar Jessica.

Dua bulan lalu, Jessica dan Amanda membuka penyewaan tas dengan nama Smart Diva dengan modal Rp 100 juta. Selain untuk berbelanja tas, duit itu juga untuk membeli sepeda motor bekas untuk urusan antar-jemput tas kepada pelanggan. "Harga sepeda motornya lebih murah daripada tas," cetus Jessica sambil tertawa. Dengan modal itu, mereka bisa memiliki 27 koleksi tas malam bermerek yang dibeli di gerai resmi di dalam dan luar negeri. "Kami enggak beli di butik," tutur Jessica yang menjamin 100% keaslian tas Smart Diva.

Harga tas itu beragam, dari Rp 1,5 juta sampai Rp 30 juta. Maka, mereka pun menentukan harga yang bermacam-macam pula untuk para penyewa tas. Harga sewanya berkisar antara Rp 150.000 sampai Rp 2 juta per tas untuk dua hari. "Paling laku yang mid-range, yang harga tasnya Rp 3 juta sampai Rp 10 juta. Yang harga sewa maksimum Rp 1 juta," jelas Jessica. Menjamin kerahasiaan klien penyewaBisnis Smart Diva ini tergolong baru. Maklum, masyarakat Indonesia tidak memiliki budaya sewa pakaian dan perlengkapannya, kecuali untuk keperluan perkawinan atau pentas.

Jessica menyadari hal itu, dan giat melakukan promosi melalui e-mail. "Bahkan, superstar Amerika di red carpet, dari ujung kepala sampai ujung kaki, sewa semua. Itu tidak apa-apa," ucapnya. Hasil promosi itu lumayan juga, dalam dua bulan mereka bisa menghimpun sekitar 100 anggota. Selain masalah budaya, Jessica juga mengaku terbentur masalah internet. Untuk menghemat investasi, Smart Diva dipasarkan melalui dunia maya. Masalahnya, baru segelintir orang di Jakarta yang melek internet. Itu pun bukan semua target pasar Smart Diva. "Banyak sekali ibu yang kaya-kaya dan sering ke pesta itu enggak tahu dan enggak sempat buka internet," ujar Jessica serius.

Mereka ini lebih suka menelepon dan melihat tas sebelum menyewa. Alhasil, Jessica harus mengakomodasi pasar. Dalam waktu dekat, mereka akan membuka gerai di Kemang. Jumlah tasnya pun sudah bertambah menjadi 100 unit. "Itu termasuk daybag-nya," kata Jessica. Maklumlah, menurut pengalaman Bagsborroworsteal di Amerika, daybag alias tas kerja termasuk hot item yang banyak penggemarnya. Dari penyewaan tas kerja inilah, napas Bagsborroworsteal bisa terus berembus. Pasalnya, seperti pengalaman Jessica, penyewaan evening bag hanya ramai saban akhir minggu.

Tentu saja, perhitungan sewa daybag ini tidak harian melainkan mingguan. Harganya juga disesuaikan. "Kami kasih harga khusus," jelasnya. Kendati ingin terus meluaskan pasar, Jessica tetap selektif memilih member Smart Diva. Sebelum diterima sebagai anggota, mereka akan melakukan survei kecil-kecilan, seperti mengecek orang, alamat, KTP, dan si anggota haruslah tinggal di Jabotabek. Menurut Jessica, sebagai imbalan untuk menjaga gengsi, Smart Diva menutup rapat identitas si anggota. "Antar-member enggak saling tahu," bisiknya. Dengan kondisi pasar yang seperti sekarang, Jessica optimistis bisa kembali modal dalam setahun. Tentu saja, yang ada dalam hitungan itu adalah modal awal, belum termasuk belanja tas untuk gerai.

Bisnis Katering Kian Nyaring

MUNGKIN sudah tradisi, bulan Rayagung (Dzulhidzah) merupakan bulan hajatan. Maklum, bulan ini kerap dijadikan pilihan untuk mengadakan berbagai perayaan, mulai dari sunatan maupun perkawinan. Terbukti, hampir setiap hari atau memasuki akhir pekan selaluMulai dari jasa rias pengantin, sewaan kursi dan tenda hingga pengelola gedung. Dan, yang tidak kalah pentingnya yaitu para pengelola usaha jasa katering sebagai jasa penyedia makanan untuk jamuan para tamu undangan.Bulan Rayagung, bisa jadi masa marema bagi para pengelola bisnis jasa katering.

Maklum, meskipun tidak semua orang selalu memilih pada bulan Rayagung untuk hajatan, namun tak dipungkiri setiap memasuki bulan ini order untuk pesanan katering untuk hajatan bisa meningkat berlipat-lipat. “Selama bulan Rayagung order untuk hari Sabtu dan Minggu rata-rata penuh, bahkan untuk menjaga kualitas pelayanan terkadang kami harus rela membatasi order yang datang,” tegas Cosa Lucky AR, S.IP, Direktur Celdy Catering.Beragam alasan orang kecenderungan menggunakan jasa katering, selain karena lebih praktis juga dari segi menu yang disajikannya cukup beragam.

Mulai dari yang berbau tradisional hingga menu kelas internasional dapat disajikan, sedangkan kalau dikelola sendiri belum tentu bisa dan yang tidak kalah pentingnya tidak membuat sibuk yang punya acara.Hal ini dirasakan oleh Celdy Catering, yang telah menggeluti bisnis ini sejak tahun 1989. Manisnya rayagungan, memang sudah dirasakan cukup lama, bahkan pada awalnya jasa katering ini lebih dominan untuk melayani hajatan seperti kawinan dan khitanan, meskipun belakangan kian melebarkan sayap hingga penyedia jasa katering untuk karyawan kantor dan pabrikan.

Beragam menu bisa menjadi pilihan, sesuai dengan budget yang dimiliki oleh calon konsumen. Dengan menu yang cukup beragam, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, Celdy menawarkan harga mulai Rp 32.500 - Rp 50.000 per porsinya. Bahkan, untuk masalah harga biasanya dapat disesuaikan dengan kondisi besar kecilnya gedung yang akan dipakai perhelatan. Biasanya, calon konsumen akan diajak berdiskusi tentang menu dan jumlah tamu yang diundang. Namun, untuk acara-acara di gedung biasanya konsumen akan memesan rata-rata antara 750 - 1000 porsi. Sehingga untuk jumlah porsi seperti itu, setiap konsumen minimal harus merogoh koceknya antara Rp. 24.000.000 - Rp. 50.000.000 untuk satu kali perhelatan.

Menariknya, meskipun musim marema, Celdy hanya menerima maksimal dua order dalam satu harinya. Hal ini, dilakukan untuk menjaga kualitas rasa makanan dan kepuasan pelayanan. Padatnya order selama bulan Rayagung ini, seandainya Sabtu dan Minggu selalu penuh, maka dalam satu bulan order katering yang menggunakan jasa Celdy dapat mencapai 16 konsumen. Berarti, selama bulan Rayagung saja, lezatnya aneka makanan katering ini telah dicicipi antara 12.000 - 16.000 tamu undangan.Begitu juga dengan Bayem Sebelas, masa marema Rayagung dijadikan untuk mengejar momen tahunan.

Dengan harga paket antara Rp. 35.000 - Rp 50.000 per porsi, bulan-bulan biasa saja bisa meraih order antara 1-3 konsumen, apalagi bulan Rayagung hampir setiap Minggu order selalu penuh. Untuk acara perhelatan kawinan ini, menawarkan paket harga mulai Rp 35.000.000 - Rp 50.000.000 untuk satu kali perhelatan. Dengan asumsi minimal pesan 1.000 porsi, kalau kurang dari itu konsumen terkena charge sekitar 15 persen dari jumlah pesanan.Meskipun setiap bulan rayagung order katering selalu meningkat, bukan berarti bisnis ini selalu manis.

Bahkan kejadian yang tidak terduga pun kerap dirasakan, misalnya stok makanan yang disajikan telah habis sebelum waktu perhelatan berakhir, dan ini bisa menjatuhkan kredibilitas para pelaku jasa katering. Biasanya masalah ini timbul karena jumlah porsi makanan yang dipesan tidak sesuai dengan jumlah undangan. “Untuk menjaga hal seperti itu terjadi, makanya perlunya ada keterbukaan dari konsumen, sehingga kejadian yang merugikan kedua belah pihak dapat dihindari,” tegas HR. Yogi Kusuma, Direktur bayam

Kaos Promosi Tetap OK

Bermodal sebuah mesin jahit dan satu mesin obras, Fauzi Ishak mengembangkan BeKaos menjadi perusahaan promotion support jempolan. Bagaimana kiat dari bos kaos ini? Sebuah mesin jahit ‘uzur’ dipajang di ruangan depan kantor CV Bandung Prima Kencana di Jalan Batu Ampar I No 40, Condet, Jakarta Timur. Mesin jahit itu agaknya mempunyai nilai historis tersendiri bagi Fauzi Ishak, direktur utama sekaligus bos CV Bandung Prima Kencana. “Pada waktu saya memulai usaha ini, modal saya cuma satu mesin jahit dan satu mesin obras,” ujar Fauzi beberapa waktu lalu. “Selebihnya modal saya cuma tekad dan keyakinan,” imbuhnya.

Itu sebabnya, ketika usahanya terus berkibar Fauzi tidak lupa terhadap jasa mesin jahitnya tersebut. Bagi Fauzi mesin jahit ‘uzur’ itu merupakan monumen perjuangannya. Fauzi mengawali usaha promotion support-nya dari sebuah ruang kontrakan berukuran 4x7 M2, di bilangan Mampang. Namun, sejatinya, Fauzi telah memulai usaha memproduksi kaos ini sejak ia masih sekolah SMA di Bandung. Kebetulan kakaknya juga seorang pengusaha kaos. Ketika kuliah di Universitas Pasundan, Fauzi mencari kos-kosan di pinggir jalan sehingga bisa nyambi untuk mengembangkan usaha kaosnya.

Saking terlena dengan kemajuan bisnisnya, kuliahnya tidak kelar. Menyadari hal tersebut, pilihan Fauzi menjadi jelas, yakni menjadi pengusaha. Namun ia tidak bisa terus bertahan di Bandung, karena usaha sejenis menjamur di Kota Kembang. Fausi mencoba menjajaki Surabaya sebagai kota basis usahanya. Namun berdasarkan survei yang dilakukan selama satu minggu, prospek bisnis kaos di Surabaya tidak terlalu bagus, karena sangat jauh dari sumber bahan bakunya yang berada di Bandung. Maka Fauzi kemudian menjajaki kota Jakarta. “Dulu banyak pelanggan kakak saya yang berasal dari Jakarta.

Dari situ timbul pikiran saya bahwa Jakarta merupakan tempat yang ideal untuk mengembangkan usaha,”katanyaUntunglah baru satu hari membuka usahanya di Jakarta ia sudah mendapat kepercayaan untuk membuat kaos olah raga SMA 1 Bekasi. Jumlahnya cuma sekitar 40 potong per kelas. Dari sisi nilai order, sebenarnya tidak terlalu besar, namun Fauzi melihat dari sisi yang lain yakni nilai kepercayaan.

Dengan serius Fauzi bersama satu orang tukang jahit dan satu tukang obras mengerjakan pesanan tersebut sehingga pelanggan puas.Untuk perusahaan skala mikro, seperti miliknya, word of mouth marketing merupakan strategi promosi yang paling jitu, karena tidak mungkin dia merogoh kocek terlalu dalam untuk melakukan promosi besar-besaran. Artinya, kepuasan pelanggan harus dinomorsatukan untuk mendapatkan efek word of mouth.Ternyata pilihannya tepat. Pelanggan yang puas mengabarkan secara berantai kualitas produk CV Bandung Prima Kencana yang mengusung brand BEKaos.

Bukan hanya individu atau kelompok saja yang akhirnya menjadi pelanggan BEKaos, dalam perkembangannya banyak perusahaan besar yang menjadi pelanggan setianya. “Telkom Jakarta Selatan, merupakan korporat pertama yang menjadi pelanggan saya,” ujar pria kelahiran Riau 7 Maret 1970 ini.Namun Fauzi mengakui pada era 90-an pelanggan kelompok merupakan pelanggan terbesarnya. Dalam satu minggu ada 50 kelompok lebih yang memesan kaos ke BEKaos. Kelompok itu bisa terdiri atas anak sekolah, bisa juga kelompok remaja dengan hobi tertentu. “STM Budi Utomo (Budut) merupakan salah satu sekolah pelanggan utama saya,” ujar Suami dari Zuhaera yang telah setia mendampinginya selama 12 tahun.

Seiring perjalanan waktu, bapak dari Rafida Fahira, Kiftia Chairunnisa dan Meylisca Fauziah ini berhasil merangkul pelanggan individu, kelompok maupun korporat. Setelah perusahaannya berusia 10 tahun, BeKaos tercatat memiliki pelanggan korporat tetap, seperti Telkom, Trakindo, Garuda, PT Indosat, PT.Fumakila, Indofood, United Tractor, PT Harini Asri Bahari dan beberapa perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). “Ada salah satu PJTKI yang menjadi pelanggan saya selama 10 tahun.

Omsetnya cukup bagus,” ujar pria yang juga menjadi pengurus HIPMI Jaya ini. Belum lama ini Fauzi mendapat order dari Garuda Maintenance Fasility sebanyak 7000 set, terdiri atas celana, kemeja, jaket, seragam overhoule. “Kebetulan saya yang memenangkan tender senilai Rp 1,2 miliar itu. Padahal yang ikut tender perusahaan-perusahaan besar. Saya juga mendapat pesanan untuk Aerowisata Catering Service senilai sekitar Rp 400 juta,” tuturnya.

Apa kiat BEKaos bisa memenangkan order untuk korporat besar? “Harga yang kompetitif, mutu yang terjamin dan pengerjaan yang tepat waktu. Untuk bisnis special order ini pengerjaan tepat waktu sangat menentukan. Malah kadang-kadang harga tidak terlalu diperhatikan. Yang penting pengerjaan waktunya tepat. Misalnya ada perusahaan yang mau launching produk. Meski waktunya sudah mepet kami bisa mengerjakan order tepat waktu.” Untuk memberikan garansi kualitas, Fauzi meyakinkan kepada konsumen bahwa BEKaos sendiri yang membuat produk tersebut.

Sebelum deal terjadi, Fauzi mengajak calon konsumen untuk melihat fasiltas produksi BeKaos yang berdiri di atas lahan 1000 M2, di daerah Condet.Dengan mempertimbangkan efisiensi dan supaya harga tetap kompetitif, Fauzi membatasi pesanan minimal 10 lusin. “Kalau pesanan banyak cost bisa kami tekan, baik dari sisi bahan baku maupun dari sisi tenaga kerja,” ungkapnya. “Namun untuk konsumen korporat saya bisa melayani pesanan di bawah 10 lusin. Tujuannya, agar perusahaan tersebut mengenal produk kami,”katanya.Dengan berbagai strategi jitu tersebut Fauzi bisa mengibarkan BeKaos. Usaha yang awalnya dimulai dari sebuah ruang kontrakan ini kini sudah memiliki fasilitas produksi seluas 1000 M2. Karyawannya yang semula dua orang ini kini sudah mencapai sekitar 72 orang. Bahkan Fauzi digandeng oleh Pemda DKI untuk membuat merchandise yang memiliki ciri khas DKI Jakarta.

Merchandise ini akan dipasarkan di pusat-pusat wisata yang tersebar di DKI, misalnya Monas dan Ancol. Bukan itu saja, Fauzi juga sudah merambah bisnis lain dengan mendirikan PT.ORBIT REKATAMA (Orbit.Comm) yang bergerak di bidang marketing communication. Ia juga berinvestasi di properti dengan membeli empat ruko. Ruko-ruko ini dimaksudkan untuk mendukung perkembangan BEKaos, namun untuk sementara masih disewakan kepada pihak lain.Meskipun mulai merambah ke bidang bisnis lain, tetapi Fauzi mengaku tidak akan meninggalkan bisnis utama yang telah membesarkan namanya. Obsesinya, Fauzi ingin mendirikan pabrik garmen. “Ini karena keinginan saya yang sangat sederhana yakni bisa mempekerjakan lebih banyak orang. Saya sangat bahagia kalau bisa mempekerjakan lebih banyak orang,” pungkas anak keenam dari tujuh bersaudara hasil perkawinan dari H Ishak Arief dan H. Hamsiah ini.

Monalisa : Pelopor Burger di Kota Gudeg

Monalisa Burger menjadi gaya makan baru masyarakat Yogyakarta. Kendati muncul pesaing baru, Monalisa terus ekspansif. Prospek pasarnya masih lebar. Bila senja telah tiba, suasana Jl. Kaliurang, Jogja mendadak berubah menjadi semringah. Makanan apa saja yang Anda inginkan pasti tersedia lengkap di sini. Dari menu asli Indonesia, hingga menu-menu manca negara. Diantara deretan warung para juragan makanan tersebut, ada sebuah gerai yang tidak pernah sepi. Itulah gerai Monalisa Burger.

Meskipun terkenal sebagai spesialis burger, Monalisa juga menjual menu barat lainnya seperti piza, spagheti, hot dog, dan aneka minuman ringan. Monalisa Burger, boleh dibilang pelopor burger local. Hari-harinya dikomandoi Wibowo Agung Sanyoto. Monalisa dibuka 1988. Awalnya hanya sebagai pengisi waktu di sela-sela kegiatan kuliahnya di Jurusan Perminyakan di UPN Veteran. Pilihannya jatuh pada burger, yang kala itu, masih terbilang asing bagi orang Jogja.Ia tertarik bisnis burger karena makanan ini praktis dan bisa ditenteng atau makan sambil jalan. Selain itu, makanan ini termasuk menu yang “bergengsi” (padahal burger itu makanan kelas pekerja kasar di negeri asalnya.Red).

Tanpa pengetahuan memadai ia mengajak ibunya menjadi “cook” dadakan. Padahal sang ibu pun idem ditto tak ngerti burger. Untung sang ibu termasuk ahli masak, dan cepat menangkap maksud Agung ketika dideskripsikan secara lisan. Tentang nama Monalisa Agung punya alasan yang rasional. “Saya ingin menggunakan nama-nama yang sudah dikenal banyak orang agar gampang akrab,” kata Agung.Sebagai edisi perdana Monalisa diperkenalkan Agung kepada kolega terdekat. Selanjutnya konsumen sudah mulai berdatangan. Pada umumnya awalnya mereka penasaran melihat tulisan spanduk Monalisa burger, karena dianggap sebagai makanan yang masih asing. “Semula orang bertanya-tanya, lalu coba-coba akhirnya menjadi ketagihan,” katanya.Monalisa menjadi berkah.

Karena setelah Monalisa mulai berkembang perusahan batik milik keluarga dengan merek Bintang Sejuta mulai redup. Belum genap setahun, Agus telah memiliki karyawan yang jumlahnya 20 orang khusus untuk membuat burger. Ia pun mulai memproduksi roti sendiri biar kualitas dan harganya terjamin.Kekuatan Monalisa?. Agung berani bertaruh karena daging yang empuk, karena racikan sang ibu, dan tampilan yang segar. Kini Monalisa melenggang terus, kendati kini banyak pesaing baru.

Bahkan ketika Mc Donald masukpun Agung tak gentar, “Alhamdulillah pelanggan kami banyak yang loyal, mungkin sudah cocok dengan menu kami,” katanya. Kendati harga Monalisa lebih mahal dari Mc Donald, menurut Agung konsumennya ogah pindah. Sebagai gambaran Agung melepas burgernya dengan harga rata-rata Rp 6.500/pieces. (Bandingkan dengan pemain besar asing).Monalisa telah menjadikan kocek pemilik Agung sekeluarga semakin tebal. Dari tiga gerainya di seantero Yogya diperkirakan membukukan 600 transaksi per malam. Itu sebelum kenaikan harga minyak. Katakanlah sekali makan orang menghabiskan Rp 5000 saja, berarti semalam volume penjualannya mencapai Rp 3,5 juta. Kalau sebulan? Bisa dihitung sendiri. Jadi mengapa burger? Dengan margin keuntungan, katakanlah 20% saja, bisa dihitung berapa isi kocek Wibowo sekeluarga per bulannya.

Wibowo tampaknya mengiyakan, trend perubahan pola makanan masyarakat moderen menjadi salah satu sebab mengapa bisnis burger semakin berkembang. Dan yang penting juga prospek dan peluang usahannya semakin hari semakin lebar. Dengan sedikit penjualan yang menurun (kurang lebi 50% karena kenaikan harga BBM), Agung tetap melaju dengan bulatan burgernnya. Buktinya, baru-baru ini dia membuka satu gerai baru di kawasan Seturan Yogyakarta. So burger will be the next big business hah?

Minggu, 26 Oktober 2008

Bisnis Isi Ulang Tinta Dari Veneta System

Veneta System sukses menjalankan bisnis isi ulang (refill) tinta printer baik toner, catridge maupun ribbon. Para Calon Franchisee diundang untuk membeli lisensinya. Sebuah peluang investasi yang menarik. Krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997 secara tidak langsung berpengaruh terhadap prilaku konsumen atau pemakai tinta printer, khususnya pemakai tinta printer original yang harganya cukup tinggi.

Namun kendati krisis menerpa, permintaan pasar Indonesia untuk produk ini tetap tinggi. Oleh karenanya perlu suatu manuver untuk mencari solusi. Kalau sebelumnya mereka menggunakan tinta printer asli, kini mereka mulai beralih untuk menggunakan tinta regenerasi, yakni isi ulang (refill) atau produk-produk remanufactured demi efisiensi pemakaian alat kantor . Veneta System yang ahli refill tinta printer, baik untuk laser jet (toner) maupun inkjet (cartridge) hadir di Indonesia tepat pada waktunya untuk memberikan solusi bagi konsumen modern.

Menurut Direktur Veneta System, Adrianus Widjaja, karena kondisi di ataslah Veneta System hadir di Indonesia selain mengusung brand yang tinggi juga teknologi Eropa untuk produk mengisian ulang tinta printer berbagai merk dan type.” Adrianus juga mamaparkan bahwa dari hasil survai yang dilakukan oleh Veneta System sebelum terjun ke bidang usaha ini, tampak terlihat adanya suatu potensi pasar yang cukup besar dengan suatu tuntutan kualitas hasil kerja yang baik dengan harga terjangkau untuk bidang isi ulang tinta ini.

Oleh karenanya, dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan, pihak manajemen mengambil konsep usaha dan teknologi Veneta System yang telah terbukti berkembang di Italy dan negara-negara lain di Eropa umumnya. “Veneta System berkembang cukup baik, terbukti dengan meningkatnya jumlah pelanggan yang menggunakan jasa isi ulang tinta printer ini ke toko-toko Veneta System,” kata Adrianus. Menurut Adrianus Veneta System tak diragukan lagi kehandalannya. Selain secara teknologi mendapat dukungan dari Veneta System di kantor pusatnya di Jakarta, seluruh jaringan toko juga memberikan dukungan kualitas dan layanan purna jual yang tak mengecewakan.

Sebagai perusahaan yang memberikan hak waralaba, Veneta System bukan sekedar pusat isi ulang tinta printer, melainkan juga merupakan sebuah system dan konsep usaha. “Yang dijual Veneta adalah sebuah system baik itu system pemasaran maupun franchise yang baik dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar Indonesia,” kata Adrianus.Untuk pasar Indonesia waralaba Veneta System (franchise) sudah mulai dikembangan dan ditawarkan ke publik pada pertengahan tahun 2003.

Sebelum mereka sampai pada keputusan “go franchise” ini, manajemen telah melakukan riset pemasaran yang cukup serius selama setahun baik terhadap produk, teknologi maupun konsep usahannya. “Sampai saat ini, Veneta System telah mengoperasikan lebih dari empat puluh outlet diberbagai kota di Indonesia, dan akan terus berkembang ke seluruh pelosok di tanah air”, katanya optimis.Menurut Adrianus, Veneta System bukan saja sebuah jaringan pemasaran satu produk, tapi sebuah konsep nilai sebuah merek (brand value). Dan ketika sebuah brand semakin berharga, maka nilai satu perusahaan semakin tinggi. Karena “value” inilah maka vaneta System berani mengembangkan diri dengan pola waralaba.

Untuk menjaga kebutuhan nilai ini maka Adrianus sangat ketat dalam menentukan standar bagi seorang calon pewaralaba. Persyaratan itu misalnya, termasuk tampilan fisik sebuah outlet, gaya arsitekturnya, jenis dan spesialisasi usaha, konsep dagang, kebijakan usaha, bahkan pelatihan untuk sumber daya manusia hingga pada pengenalan mesin-mesin pengisi-ulang (refill) tinta terbaru.Adrianus memberikan gambaran, harga jual waralaba Veneta System relatif murah dibandingkan dengan investasi waralaba pada umumnya.

Besar investasi yang harus dikeluarkan oleh calon pewaralaba sangat tergantung dari luas toko dan kelengkapannya. Veneta hanya memberikan arahan bagi pembangunan outletnya. Untuk biaya awal waralaba (franchise fee) berlaku untuk lima tahun dan biaya tersebut termasuk digunakan untuk biaya pelatihan SDM, biaya survey, perlengkapan laboratorium pengisian tinta dan komponen biaya lain.Mahal? Adrianus memastikan nilai tersebut bahkan belum sebanding dengan benefit yang diperoleh pewaralaba. Karena menurut hitungannya, delapan puluh persen dari investasi yang ditanamkan tersebut sebenarnya langsung dinikmati oleh penerima waralaba (franchisee).

Misalnya untuk pemenuhan termasuk stok dan standar design, layout dan image toko. Dan yang menggembirakan Adrianus memperkirakan hanya dalam waktu dua tahun investasi bakal balik modal. Sebagai sebuah peluang usaha tentu saja sangat menarik. Di tengah gencarnya pertumbuhan para pesaing sejenis, kini Veneta System telah memiliki jaringan di berbagai kota besar di Indonesia. Menurut Adrianus, untuk mewujudkan pelayanan yang baku tersebut, maka pengawasan manajemen sangat ketat. Dengan konsep yang standar dan sama tersebut, menurut Adrianus setiap outlet akan merasa bahwa mereka bagian dari Veneta System yang baku dan profesional. Khusus untuk outlet-outlet di luar Jabodetabek ada extra cost pada investasi awal. Yaitu biaya survey lokasi dan biaya kunjungan berkala dari manajemen pusat. Sementara untuk semua biaya pengiriman barang akan ditanggung oleh pihak supplier. Melihat trend bisnis di Indonesia, serta maraknya bisnis franchise di Indonesia, adalah tidak salah untuk mempertimbangkan membeli Veneta System sebagai pilihan investasi

Peluang Usaha Campina Scoop Counter

Produsen es krim Campina lagi gencar menawarkan peluang usaha baru, yakni kerja sama membuka Campina Scoop Counter. Cukup berbekal sewa ruang plus modal sekitar Rp 3 juta, Anda berpeluang meraup untung berlipat. Barangkali tak ada yang bisa menyebut dengan pasti, kapan es krim mulai dikenal dan dicecap lidah orang Indonesia. Yang pasti, hingga kini gumpalan lembut nan dingin berbahan dasar susu ini sudah begitu lekat dengan lidah masyarakat kita.

Masyarakat kelas atas atau kelas bawah, anak-anak juga dewasa, pada suka. Apalagi saat cuaca terik, ehm... alangkah segarnya mengulum es krim nan lembut itu. Kerongkongan yang gersang langsung segar kembali. Penjaja es krim di Indonesia juga lumayan banyak. Ada yang kelas rumahan, ada yang kelas industri. Salah satu pemain es krim kelas industri yang cukup terkenal adalah PT Campina Ice Cream Industry, produsen es krim berlabel Campina. Lazimnya perusahaan es krim skala industri, selama ini Campina menjual produk-produknya dalam bentuk kemasan.

Nah, mulai tahun ini penggemar es krim Campina bisa memilih sendiri jenis es krimnya dalam takaran sendok atawa scoop. Pasalnya, sejak Juli lalu Campina mulai mengembangkan Campina Scoop Counter (CSC), gerai yang menjual es krim Campina dalam satuan scoop. Campina bukanlah satu-satunya produsen yang menerapkan strategi pemasaran ala scoop counter ini. Beberapa pemain besar yang sudah beken di seantero bumi sudah lebih dulu melakoninya. Sebut saja Hagen Daaz, Baskin & Robins, dan New Zealand.

Meski harus bersaing dengan nama-nama yang sudah mendunia, manajemen Campina mengaku tak gentar lantaran merasa memiliki kelebihan tersendiri. "Kami punya produk yang sangat bervariasi, dan harganya tidak mahal," ujar Nu'man Abdussyakur, Area Sales Manager Jakarta PT Campina Ice Cream Industry. Asal tahu saja, es krim Campina cuma dibanderol Rp 2.500 per sendok yang dimasukkan dalam cone atau cup.Modal semiwaralaba cuma Rp 3 jutaCampina juga tidak mau repot mengurusi sendiri gerai-gerai kecil tersebut. "Kami tawarkan pada masyarakat yang berminat untuk membuka gerai CSC dengan sistem semi-franchise," ungkap Nu'man. Cara ini rupanya cukup ampuh.

Di Jakarta saja, kata Nu'man, saat ini sudah ada sekitar 80 gerai. "Tahun ini targetnya 200 gerai di Jakarta dan 500 gerai di seluruh Indonesia," ujarnya. Bila berminat, Anda tentu harus menyiapkan sejumlah duit. Tidak besar, kok. "Hanya Rp 3 juta," kata Nu'man. Dana ini dipakai untuk membeli peralatan dan perlengkapan gerai yang total harganya mencapai dua juta perak. Anda juga akan mendapat gerobak mungil dan pinjaman kotak freezer dari Campina. Nah, sisa satu juta perak lagi dipakai sebagai uang jaminan. "Nantinya dikembalikan jika tidak mau jadi mitra CSC," kata dia.Enaknya lagi, karena sifatnya semi-franchise, Campina tidak menarik biaya waralaba (franchise fee) dan biaya royalti. "Jadi, orang berpeluang membuka usaha dengan merek ternama, tapi dengan biaya murah," ucap Nu'man berbumbu promosi.

Tugas paling serius yang harus dilakukan calon terwaralaba adalah mencari lokasi yang cocok untuk membuka CSC. Campina menetapkan syarat, lokasi itu harus ramai disambangi orang, setidaknya 200 orang tiap hari. Tak harus di mal atau pusat perdagangan, lokasinya juga bisa di sekolah, terminal, bandara, asalkan kebersihannya terjaga. Tentu saja, Campina akan melakukan survei untuk memastikan kelayakan lokasi itu. Oh, ya, selain modal uang yang Rp 3 juta tadi, si mitra Campina tentu juga harus menyediakan duit untuk sewa ruang usahanya. Tapi, jumlahnya tak terlalu besar, kok. Sebab, CSC tak membutuhkan ruang yang terlalu luas. Bahkan, Anda bisa nebeng ke pemilik kios atau gerai besar.

Nu'man menganjurkan, sewanya jangan sampai melebihi Rp 1.000.000 per bulan. Ini untuk memudahkan investor mencapai target balik modal. Tapi, saran Nu'man itu hanya patokan. Anda bisa mengabaikannya bila Anda yakin benar akan potensi lokasi pilihan Anda. Seperti pengalaman Sally, mitra Campina yang memiliki 15 gerai di Bandung. Sewa ruang gerainya di ITC Kebon Kelapa, Bandung, misalnya, sekitar Rp 2.000.000 per bulan. Toh, Sally tetap mengeduk untung dari situ. Soalnya, "Di situ saya bisa dapat omzet Rp 700.000 tiap hari," ungkapnya bangga.Makin kreatif, makin untungMemilih lokasi yang pas memang tak mudah.

Sekarang bisa saja lokasi itu ramainya bukan main, tapi besok -besok bisa sepi kayak kuburan. Hal serupa ini pernah dialami Sally di gerainya yang berlokaasi di Griya Sumber Sari. Untuk menyiasatinya, jangan menyewa ruang untuk jangka panjang. Cukup sewa bulanan atau paling lama tiga bulan. Jadi, bila lokasi gerai mulai sepi, kita bisa cepat pindah ke tempat lain. Selain lokasi yang oke punya, agar keuntungan deras mengalir ke brankas, kunci suksesnya adalah kejelian dan kreativitas dalam memberikan nilai tambah pada barang dagangan. Campina tidak mewajibkan Anda menjual es krim ini secara plain vanilla alias lugu, yaitu Rp 2.500 per cone atau cup.

Si mitra bebas mengkreasikan penyajian es krimnya, hingga bisa pula menjualnya dengan harga lebih tinggi. Contoh kecil saja, Anda bisa membubuhkan stroberi, wafer, atau cookies nan renyah di atas es krim, lalu jual dengan harga, misalnya, Rp 5.000. Semakin kreatif Anda menyajikan es krim, semakin besar minat konsumen dan keuntungan Anda. So, semakin cepat pula modal Anda balik. Nah, asal lokasinya oke, dengan cara penjualan standar saja Anda tetap bisa menikmati keuntungan yang senikmat es krim. Sebab, margin kotornya mencapai 60%. Dengan omzet Rp 6 juta per bulan saja, sekitar 3 bulan modal Anda sudah balik. Bulan selanjutnya, Anda tinggal menyesap keuntungan. Slurp... slurp.... Nyes, nikmatnya.

Es Krim dari GarasiEs krim Campina merupakan salah satu industri es krim lokal yang sanggup bertahan di tengah serbuan industri es krim asing. Siapa sangka, es krim lokal ini berasal dari sebuah garasi sederhana?Kisahnya bermula tahun 1970. Sang pendiri, Pranoto, mulai mengolah es krim di garasi rumah mungilnya di Kota Surabaya. Kala itu es krim belum sepopuler sekarang, sehingga dia harus bersusah payah menjajakan es krim buatannya. Pada tahun kesepuluh, barulah Pranoto berhasil membeli mesin pengolah es krim yang khusus didatangkan dari Italia. Lokasi produksinya, sih, tetap di garasi rumahnya itu. Tapi dengan mesin lebih canggih itu usahanya makin maju.

Akhirnya, setengah dekade kemudian, ia memindahkan kegiatan usahanya ke kawasan bisnis bergengsi di Rungkut Industrial Estate, Surabaya. Tahun 1994, keluarga Sabana Prawirawidjaja, pemilik PT Ultra Jaya Milk Industry, membeli sebagian saham perusahaan ini. Nama perusahaan pun berubah dari CV Pranoto Pancajaya menjadi PT Campina Ice Cream Industry, sampai sekarang. Kini, produk-produk perusahaan ini cukup populer dan gampang dijumpai di minimarket, supermarket. Tersebut pula beberapa tempat makan lain yang khusus memakai es krim buatan Campina, antara lain D'Crepes, Music Cafe, Steak Obonk, Carrefour Restoran, Embargo Coffee Shop, dan Inul Vista Karaoke

Bisnis Bioskop Mini - JadiJuragan Bioskop Kelas Cilik

Terbuka lebar peluang bisnis bioskop mini. Tak hanya di daerah yang bioskopnya masih minim, di kota besar macam Jakarta pun bisnis ini masih menjanjikan. Pasarnya masih cukup besar. Modalnya relatif kecil, dan marginnya tinggi, mencapai 75%. Sejak zaman bokap dan nyokap pacaran, nonton film sudah menjadi salah satu menu kencan pasangan anak muda. Nonton film di bioskop juga merupakan salah satu aktivitas yang paling asyik untuk menjeda rutinitas. Dan, juga untuk mencari inspirasi baru.

Di era digital ini, jika tak punya waktu ke bioskop, kita memang bisa menonton DVD di rumah. Apalagi sudah ada perangkat audio visual canggih yang bisa menghadirkan home theater di kediaman Anda. Cuma, bagi pecinta nonton, memelototi film di rumah tak seasyik menonton di bioskop. Ada greget yang hilang. Mungkin dari perjuangan berat usel-uselan mengantre tiket, ngecengin orang-orang yang ada di situ, sampai memergoki-atau dipergoki-penonton lain tengah pacaran di dalam theather.

Bagaimana, dong, kalau di kota kita belum ada bioskop, atau kalaupun ada jumlahnya sedikit? Inilah sebuah peluang bisnis baru. Untuk menggantikan bioskop, kini mulai bermunculan yang namanya bioskop mini. Peluang usaha teater cilik ini tentu saja menjadi amat lebar di daerah-daerah yang belum memiliki bioskop atau yang jumlah bioskopnya sedikit. Salah satu contoh suksesnya adalah Movie Box yang berada di Jogjakarta. Terletak di kawasan dekat kampus, Movie Box merupakan sepotong ruang memanjang berukuran 6 x 9 meter. Ada lima perangkat audio yang mendukung kedahsyatan suara layaknya di sinema besar.

Sebuah proyektor digantungkan di langit-langit dan ditembakkan pada tembok putih berukuran 4 x 6 meter.Di ruangan itu telah tertata kursi sofa yang disusun bertingkat, persis kayak kursi di bioskop. Sofanya berjumlah 12 set, yang bisa diduduki oleh 12 pasangan alias 24 orang. Asyik, to? Ya, untuk bisa menonton di Movie Box ini, pengunjung biasanya datang berdua, sebab tiketnya dijual untuk dua orang sekaligus.

Tarifnya Rp 30.000 untuk non-member dan Rp 15.000 untuk member. Pada hari biasa, Movie Box buka untuk tiga sesi pemutaran film, yakni pukul 14.30, 17.00, dan 19.30. Pada weekend, jadwal main film ditambah pada pukul 22.00 dan midnight. Soal film, Movie Box tak kalah dari jaringan bioskop besar. Movie mini ini selalu memutar cakram berisi film-film terbaru Hollywood. Sebagian besar kursi selalu terisi Kehadiran Movie Box mendapat sambutan hangat kawula muda Jogja.

Setiap jam pertunjukan, sebagian besar kursi terisi. Pengunjungnya tak hanya mahasiswa yang merupakan target pasar utama, tapi juga anak-anak SMU-bahkan para ABG. Sering pula sekelompok pengunjung mencarter atau memblocking time di Movie Box. Tarifnya Rp 120.000 untuk satu kali pertunjukan. Tak jarang pula ada perusahaan yang mem-booking Movie Box selama seminggu penuh dan memutar film-film box office yang mereka sponsori. "Kalau dirata-rata, tingkat penjualan tiketnya sekitar 80%," beber Cahyadi, pemilik dan pengelola Movie Box.Sukses Movie Box menjaring banyak penonton berkat adanya sistem membership.

Untuk menjadi anggota, orang harus membayar joining fee sebesar Rp 40.000. Imbalannya, selain bisa membeli tiket dengan harga miring, si member juga akan mendapat fasilitas belanja diskon di beberapa toko, seperti Ginza, Soda Lounge, kosmetik Avon, Veneta Refill, dan NorthBound Boutique. Tak mau kalah dari bioskop-bioskop yang umumnya berada di mal atau pusat hiburan, Movie Box juga membuka coffeeshop di sebelah ruang teaternya. Selain dari penjualan tiket yang bisa memberi keuntungan sekitar 75%, kedai kopi ini ikut menyumbang keuntungan yang lumayan ke kantong Cahyadi.

Tak heran, perusahaan yang berawal dari usaha penyewaan VCD ini bisa balik modal kurang dari setahun. Di Jakarta pun peluangnya cukup besar Bisnis bisokop mini ini tak hanya berpeluang di kota atau daerah yang jumlah bioskopnya minim. Di kota besar seperti Jakarta yang sudah memiliki begitu banyak gedung bioskop-mulai kelas premier hingga kelas pasar rakyat-usaha ini juga lumayan subur. Maklumlah, tetap ada pasar bagi orang-orang yang hendak menonton film di luar rumah, tapi ogah antre, ingin suasana yang lebih privasi, dan tentu saja harga tiket yang lebih murah.

Sebut saja contohnya teater mungil bernama Subtitles yang terletak di lantai dasar Dharmawangsa Square. Bioskop mini yang sekaligus juga merupakan usaha rental DVD ini memiliki ruang nonton berukuran 5 x 3 meter untuk maksimal enam pengunjung. Tarifnya, baik menonton sendiri atau berkelompok, Rp 80.000 untuk satu kali pertunjukan. Itu untuk yang non-member. Member bioskop mini ini cukup membayar Rp 60.000. Buka mulai pukul 10.00 pagi, Subtitles yang memutar film empat kali pada hari biasa plus midnight pada akhir pekan ini tak pernah sepi pengunjung.

Tak hanya hanya anak-anak muda, rombongan ibu-ibu atau keluarga juga kerap bersantai di sini. Untuk weekend, sering kali pelanggan harus booking dulu empat hari sebelumnya. Menurut Fujianto, Sales and Marketing Subtitle, bioskop kecil ini bermodalkan Rp 150 juta. "Memang belum balik modal. Kami perkirakan setidaknya pada tahun kedua sudah balik modal," ujarnya. Usaha bioskop kecil ini juga bisa menjadi kembangan atau pelengkap bisnis lama yang sudah Anda rintis.

Ambil contoh langkah yang dilakukan Ke'kun Café yang membuka layanan bioskop kecil bernama Flickers di kafenya yang berlokasi di kawasan Kemang. "Flickers merupakan tambahan fasilitas bagi pengunjung kami, sama seperti bar atau ruang karaoke," terang Patrick Sinaga, PR & Marketing Manager Ke'Kun Café. Flickers merupakan suatu ruang teater kecil berukuran 5 x 3 meter. Di situ ada tiga set sofa yang bisa menampung delapan orang pengunjung. Secarik layar dari kain terpampang di dinding, siap menyambut sorotan film dari proyektor.

Sound-nya lumayan. "Setiap hari Flickers pasti terisi," ujar Patrick. Sebagian penonton adalah pengunjung kafe yang ingin makan dan menonton sembari menunggu kemacetan lalu lintas di sana menyusut. Maklum, di ruangan teater ini, penonton bisa makan dan minum, tapi tak bisa merokok. Namun, sebagian pengunjung lainnya memang sengaja datang untuk menonton film; baik datang sendiri, dengan pasangan, atau bergerombol. Enaknya lagi, di sini pengunjung bisa membawa sendiri film yang hendak di tontonnya.

Untuk bisa menikmati film di Flickers, baik Anda datang sendiri atau dengan orang lain, Anda harus membayar ongkos sebesar Rp 99.000 untuk satu kali pemutaran film. Cuma, ada catatan penting menyangkut hak cipta (copyright) film. Umumnya, film dalam format DVD hanya boleh diputar untuk konsumen individual. Jangan-jangan jika film itu diputar untuk banyak orang dengan memungut bayaran akan menimbulkan masalah di belakang hari.

Bos ATM Foto Bermodal Rp 50 Juta

Makin beragam saja jenis mesin pencetak foto digital yang berbentuk ATM. PT Modren Foto pun menawarkan mesin terbarunya. Dihitung-hitung, dengan modal tak sampai Rp 50 juta bisnis ini bisa balik modal paling lama setahun. Inovasi produk-produk berteknologi digital melaju amat pesat. Begitu dahsyat kemajuan itu hingga terjadi perubahan selera, pola konsumsi, dan mengubah peta bisnis dan industri.

Produk-produk berteknologi lama langsung terasa usang, kuno, dan merepotkan bila versi digitalnya sudah lahir. Orang pun beralih ke produk digital, mau tak mau, industri pun harus menata diri mengikuti kebutuhan baru pasar itu Contohnya saja kamera. Kini memakai kamera lama dengan sistem manual terasa ribet dan mahal. Maklum, kamera analog masih menggunakan film yang cukup mahal.

Cara pakainya pun lumayan ruwet, sementara hasil jepretan pun belum tentu bagus. Saat menjepret rasanya asyik-asyik saja, eh, begitu dicetak hasilnya bisa kabur atau malah hangus. Bikin keki saja. Makanya, orang-orang cenderung beralih ke kamera digital. Selain tanpa film, pengoperasian kamera digital begitu sederhana. Anak kecil juga bisa. Hasil jepretan pun bisa diketahui seketika. Apalagi, harganya pun cenderung turun dengan munculnya kamera-kamera digital baru yang lebih canggih dan trendi.

Demam yang lebih hebat lagi terjadi pada industri ponsel. Kalau dulu, orang sudah cukup bangga menenteng ponsel mini yang hanya bisa bicara dan SMS. Kini, orang harus pakai ponsel yang ada kamera digitalnya. Tren penggunaan kamera digital-baik itu tustel atau ponsel-otomatis membawa perubahan bagi industri cetak foto. Kini orang membutuhkan pencetak foto digital. Ya, pada satu tahapan era digital ini, sebuah foto belum banyak berarti kalau baru ada di dalam memory card, ponsel, flush disk, atau hardisk komputer. Orang masih ingin memandangi kegantengan atau kecantikan dirinya sendiri pada sebuah kertas, pada hasil cetak foto. Nah, kebutuhan pencetak foto digital semakin meningkat seirama melonjaknya penjualan kamera digital.

Mengutip data GFK-lembaga survei independen internasional untuk fotografi digital-tahun ini jumlah permintaan kamera digital akan meningkat 70%. Dengan kenaikan sebesar ini, diperkirakan ang-ka penjualan kamera digital hingga akhir 2005 mencapai 300.000 unit. Makanya, selain memproduksi kamera digital, beberapa produsen juga mengeluarkan mesin pencetak foto. Menurut Henri Honoris, Direktur Sales dan Marketing PT Modern Photo, distributor Fuji Film di Indonesia, margin dari pen-jualan kamera relatif tipis. Untuk mendongkrak laba, mereka juga berbisnis cetak foto digital. "Seperti toko ponsel yang mengandalkan pemasukan lewat jualan voucher, begitulah kami mengandalkan bisnis cetak foto," katanya.

Belakangan para produsen itu tak cuma membikin laboratorium cetak digital yang investasinya lumayan gede. Mereka mulai memasarkan mesin pencetak foto mini yang bentuknya mirip mesin penarik duit ATM. Itu pula sebabnya perangkat ini kerap dinamai ATM foto.Gampangnya, di mesin ATM foto ada monitor. Lalu, di situ juga ada slot atau lubang-lubang untuk membaca segala macam alat pe-nyimpan foto digital. Bisa CD, disket floppy yang kuno itu, dan tentu saja segala jenis memory card. Kalau mau cetak dari komputer laptop, PDA, atau ponsel juga bisa, karena mesin ini mempunyai fasilitas inframerah dan juga bluetooth.

Tentu saja peranti yang Anda bawa harus punya fitur inframerah atau bluetooth pula.Margin kotor bisa dapat 75%Pionir ATM foto adalah Kodak yang kini memasuki generasi ketiga. Sudah cukup banyak pengusaha yang menggunakan ATM foto Kodak sebagai periuk nasinya. Kalau berminat, Anda bisa memperolehnya dengan modal Rp 135 juta (KONTAN, 21 Juni 2004). Bagi yang mau berbisnis ATM foto dengan modal lebih kecil, coba saja M Print Station Plus (MPS+) hasil besutan PT Modern Foto. "Investasi awalnya sekitar Rp 50 juta seunit," terang Henri. Mesin MPS+ bisa mencetak foto hanya dalam waktu 20 detik. Kecepatan ini bisa meningkat asal ditambah printer.

Dengan warnanya yang merah menyala, MPS+ sangat cocok mengincar kaum ABG sebagai target pasarnya. Mesin dengan layar sentuh ini begitu mudah dioperasikan tanpa bantuan operator. MPS + mampu mencetak berbagai ukuran mulai dari 2S (1R) seharga Rp 2.000, 3S (2R) Rp 3.000, hingga 4R Rp 5.000. Kualitas cetaknya sama seperti Fuji Digital Image, laboratorium foto digital milik Modern Foto.

Ah, tapi apakah masih ada peluang di tengah maraknya produk sejenis dan laboratorium foto digital? "Masih ada," kata Henri hakulyakin. Kuncinya: ambil lokasi yang tepat. "Sebaiknya kita cari tempat yang belum ada saingannya," saran Hendra Gunawan, salah satu pemilik MPS+ yang juga memiliki ATM Kodak. Ia menambahkan, kalau tak ada saingan, jangankan buka di mal, buka di ruko pun ia berani melakoni. Salah satu gerai MPS+ miliknya yang laris-manis ada di Pasaraya Manggarai. "Wah, yang mencetak di MPS+ sampai antre, nih," ujar Tahyuni, kepala Hawaii Foto, gerai milik Hendra Gunawan.

Tak usah puyeng sendiri me-mikirkan bagaimana lokasi yang pas itu, sebab Modern Foto siap membantu pelaksanaan survei lokasi. Biaya sewa ruangnya tentu tak mahal, karena ruang yang dibutuhkan tak luas. Bahkan, kalau Anda sudah punya usaha semacam fotokopi, apotek, warnet, atau studio foto tak perlu repot-repot menambah ruang usaha untuk ATM foto ini. Modern Foto juga memberikan layanan purnajual dan garansi setahun bagi pembeli ATM fotonya. "Ini bisnis bagus, paling tidak setahun sudah balik modal," ucap Henri berpromosi.

Pasalnya, pasarnya bakal terus bertumbuh seiring terus membesarnya angka pengguna kamera dan ponsel berkamera digital. Dan, enaknya, margin MPS+ bisa mencapai 75%. Sebab, biaya produknya hanya sekitar 25%. Ke depan, bisnis ini agaknya menjadi favorit para pengusaha kecil yang tangguh. Pilihan mesin pencetak foto bakal makin bertambah dengan masuknya Konica pada akhir tahun ini. Konon, mereka bakal menjual produk ATM foto seharga US$ 5.000 seunit. Nyok kita cetak foto sambil mencetak fulus pula.

Bikin Kamera Sendiri Sangkakala maut industri rol film fotografi sayup-sayup mulai terdengar. Tren ke arah kamera digital makin meminggirkan peran kamera analog. Makanya, para distributor film pun mulai berbenah. Mereka serius menggeluti bisnis cetak digital dan mulai membuat kamera digital sendiri. Salah satunya PT Modern Foto, distributor Fuji Film di Indonesia. Fuji Film baru saja melansir produk keduanya, Mpix Digital Camera. "Total kandungan lokalnya bisa mencapai 90%," jelas Lendy Susanto, Presiden Direktur PT Modern Photo.Mpix merupakan kamera digital dengan resolusi 3,1 megapixel. Kamera ini dilengkapi layar LCD warna 1,5 inci TFT, dan internal memory sebesar 8 MB. Dan, bisa pula untuk rekam suara dan video.

Kamera digital ini merupakan seri kedua yang diluncurkan Modern Photo. Sebelumnya, Mpix seri pertama diluncurkan Juli 2005 dan telah terjual 10.000 unit dalam lima bulan. Ini membuat Modern Photo optimistis Mpix seri terbaru yang bakal dijual Rp 1 juta per unit bisa melampaui penjualan kamera seri pertama

Mencicipi usaha food court rumahan

Bila memiliki lahan luas, cobalah membuka usaha pujasera atau food court kecil-kecilan. Anda bisa mencontek pengembang dengan memanfaatkan uang milik penyewa sebagai modal. Kalau lokasinya strategis, dalam hitungan bulan sudah bisa menggapai titik impas. Makin banyak masyarakat Indonesia yang suka jajan. Eit, jangan mengurut dada dulu, jajan di sini bukan dalam artian konotatif, melainkan arti sebenarnya.

Tengok saja food court di mal yang lokasinya strategis atau warung-warung di lokasi perkantoran yang selalu penuh sesak. Sama seperti kongko di kafe, jajan bukan sekadar pengisi perut, tapi sudah menjadi gaya hidup. Kalau sudah begini, pengelola mal dan pemilik warung bisa menyunggingkan senyum lebar-lebar. Tapi, senyum itu bukan hanya buat mereka, kok. Kendati bukan pemilik mal dan tak piawai membikin makanan yang bisa membuat lidah bergoyang, Anda pun bisa melahap rezeki nan halal ini.

Bikin saja food court alias pusat jajan serbaada (pujasera) rumahan. Syaratnya gampang, kok, asal punya lahan di lokasi strategis, kreatif bikin dekorasi, dan gigih dalam memasarkan. Tengok saja yang dilakukan seorang penghuni perumahan di kawasan Ciputat, Tangerang, yang rupanya masih malu untuk menyebutkan jati dirinya. Tiga bulan lalu, bersama sang istri dia merombak rumahnya yang cukup luas untuk dijadikan food court kecil-kecilan.

Yang berjualan di pujasera ini adalah para pedagang makanan yang tadinya menempati lahan milik pengembang perumahan itu. Nah, suatu ketika sang pengembang berniat memanfaatkan lahan tersebut sehingga para pedagang tergusur. "Ini kan perumahan baru, jadi sulit cari makanan. Makanya kami rombak rumah lalu kami tampung para pedagang itu," jelasnya. Ketimbang harus keluar kompleks dan keluar ongkos ojek, para penghuni lebih suka menyambangi food court milik dia. Walhasil, saban hari pujasera itu ramai dikunjungi pembeli. Tak ada menu yang samaModal Anda cekak? Don't worry be happy.

Simak saja pengalaman Ryan Heryandi ketika membuka Pondok 1000 Rasa di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dua tahun silam. "Saya hanya punya lahan 350 m2, tapi enggak punya uang. Mau pinjam ke bank takut, butuh jaminan rumah," ucapnya. Alumni Universitas Parahiyangan Bandung itu pun lantas putar otak. Akhirnya ia membeli selembar tripleks, lalu menggantungnya di depan rumah. "Segera dibuka food court, hubungi nomor xxxx," begitu gaya Ryan berpromosi demi menjaring calon penyewa pujasera miliknya. Tak lama kemudian, banyak calon penyewa menyambangi Ryan dan menanyakan konsep yang bakal diusung. Ia pun menjelaskan, konsepnya meniru food court di mal Pondok Indah, tempat Ryan berniaga sebelumnya.

Rupanya konsep tersebut membuat hati calon penyewa kepincut. Apalagi lokasinya memang sangat strategis, di pinggir jalan dan persis di samping markas besar Grup Jawa Pos di Jakarta. Dalam tempo sebulan, setelah melewati proses seleksi, Ryan sudah mendapatkan 20 pedagang sebagai penyewa. "Seleksinya, tak ada counter yang memiliki menu sama. Tujuannya agar tak saling sikut," ungkapnya. Ia menarik uang sewa Rp 500.000 sebulan, dan para pedagang harus menyewa selama tiga bulan.

Selain itu, para penyewa juga kudu membayar uang jaminan Rp 1 juta. Jadinya setiap pedagang menyetor duit sebesar Rp 2,5 juta. Nah, kendati pujasera belum berdiri, Ryan sudah mampu mengumpulkan uang Rp 50 juta yang digunakan sebagai modal awal. Ryan pun langsung merombak rumahnya. Sebanyak Rp 40 juta habis untuk dekorasi, struktur bangunan, kayu, dan biaya tukang. Sisanya Rp 10 juta ia gunakan untuk membeli meja, kursi, instalasi listrik, tebang pohon, dan izin pemda. Untuk perizinan, sebenarnya hanya dikenakan Rp 200.000.

Namun, di negeri jagoan korupsi ini, biaya tersebut membengkak hingga lima kali lipat. Adapun untuk tempat atau gerobak disediakan oleh penyewa, Ryan hanya menyediakan penyekat. Sebagai pelengkap, Pondok 1000 Rasa menyediakan satu televisi dan memajang beberapa lukisan.Setelah berjalan dua tahun, penyewa Pondok 1000 Rasa keluar masuk. Kini, dari 20 tinggal tersisa 12 konter. Seiring dengan berjalannya waktu, uang jaminan para penyewa awal sudah dikembalikan.

Uang sewa pun kini fleksibel, bisa bulanan Rp 500.000 atau harian sebesar Rp 20.000 per hari. Para pedagang lebih nyamanSelain di lokasi perumahan atau dekat perkantoran, kampus dan sekolah juga bisa menjadi tempat potensial untuk food court rumahan. Tengok saja yang sedang dipersiapkan Kiki Rizki di kawasan Buah Batu Bandung, Jawa Barat. Bertepatan dengan tahun ajaran baru pekan depan, ia membuka food court di halaman rumahnya seluas 45 m2. Maklum, rumahnya berhadapan langsung dengan SMP 13 Bandung.

Awalnya di tempat itu Kiki hanya berjualan jus. Namun, ia melihat ada peluang untuk mendirikan pujasera bagi anak-anak sekolah itu. Kini ia sudah menyekat ruang untuk 10 konter dengan luas masing-masing 1 x 1,5 meter, biayanya Rp 500.000. Lantaran mengincar pangsa anak sekolahan, konsep food court dan harga jajanan tentu disesuaikan. Paling tidak untuk harga harus di bawah goceng. Makanya biaya sewa yang dipasang Kiki tidak sebesar Pondok 1000 rasa. "Paling Rp 200.000 sebulan," kata Kiki.

Ia optimistis bisa segera mewujudkan usahanya itu. Menurut Ryan, selain lokasi yang pas, kunci keberhasilan membuka food court rumahan adalah bagaimana meyakinkan orang. "Saya kan enggak punya apa-apa, hanya konsep yang ada di otak," bebernya. Umumnya food court di lokasi perkantoran, sekolah, dan kampus buka hari Senin sampai Sabtu. Adanya pujasera rumahan ini tentu saja menguntungkan kedua belah pihak. Si pemilik memperoleh penghasilan, sedangkan pedagang dan pembeli mendapatkan kenyamanan.

Pemilik pujasera sudah menanggung seluruh biaya yang biasa dikeluarkan oleh para pedagang. Artinya, pemilik harus menanggung biaya listrik, biaya keamanan, kebersihan dan biaya tetek bengek lainnya. Jadi, pedagang tak perlu pusing-pusing lagi.Bayangkan kalau pedagang berkeliaran dengan tenda-tenda di pinggir jalan. Sudah dipalaki preman dan aparat, para pedagang juga mesti siap kalau tramtib yang terkenal galak-galak mengusir mereka. Kalau sudah begini, seenak apa pun makanan yang disajikan, para pejajan bisa merasa tak nyaman