Laman

Senin, 19 Oktober 2009

Laba nan besar di kerudung ber magnet

LAIKNYA barang fesyen, perkembangan jilbab pun sangat pesat. Model, corak, warna, dan bahan dasarnya terus berkembang. Pasar yang besar di satu sisi, dan persaingan yang kian ketat di sisi lain, mendorong pembuat jilbab terus menciptakan kerudung kreasi terbaru.

Di antara sekian banyak jajaran jilbab model teranyar, jilbab buatan Herawati menonjol karena menawarkan hal berbeda. Pengusaha di Klaten ini membuat jilbab yang tak hanya berfungsi sebagai penutup aurat muslimah, tetapi sekaligus juga sebagai pakaian yang menyehatkan pemakainya.

Banyak orang menyebut jilbab buatan Herawati sebagai jilbab bermagnet. Namun Herawati sendiri lebih suka menyebutnya Jihat, kependekan dari jilbab sehat.

Jilbab buatan Herawati memang terbuat dari magnet.Tapi, jangan buru-buru membayangkan jilbab tersebut terbuat dari magnet seluruhnya. Herawati hanya menempelkan magnet dalam kain kerudung buatannya. Magnet-magnet itulah yang diyakini bisa berpengaruh positif pada kesehatan tubuh pemakainya.

“Banyak literatur menjelaskan magnet dapat menyeimbangkan ion positif dan negatif dalam tubuh,” kata Herawati. Ia merujuk pada trend gelang dan kalung kesehatan yang kini banyak dipakai orang.

Karena digunakan sebagai penutup kepala, imbuh Herawati, jilbab bermagnet dapat memperlancar aliran darah ke otak. Jilbab tersebut juga mengatasi berbagai keluhan seperti pusing-pusing, badan pegal karena terlalu lama atau karena jilbab dipasang terlalu kencang.

Ia mengaku tak sembarangan menempatkan magnet pada jilbab buatannya. Ada ukuran tertentu untuk magnet yang ia gunakan. “Saya sisipkan delapan magnet. Empat di kanan dan empat lagi di kiri,” paparnya.

Herawati sudah berbisnis perlengkapan muslimah sejak lima tahun lalu. Tapi baru setahun terakhir dia memproduksi jilbab sehat.

Rupanya jilbab buatannya mendapat sambutan hangat dari konsumen. Dalam sebulan, ia bisa menjual 2.000 helai jilbab. Dengan harga Rp 90.000 per helai, ia meraup omzet Rp 180 juta perbulan. “Selama bulan puasa kemarin, penjualan kami naik dua kali lipat,” katanya.

Herawati memasarkan Jihat lewat 10 gerai miliknya yang tersebar di Klaten, Solo, Boyolali, dan Jogja. Dari gerai-gerai itulah, jilbab bermagnet buatannya melanglang buana hingga ke Malaysia, Singapura, Brunei, dan Qatar. “Kebanyakan pembeli kami menjual lagi ke mancanegara,” katanya. sayangnya, dia mengaku tak ingat berapa banyak jilbabnya yang diekspor.

Herawati yakin usaha ini masih bisa berkembang. Sebab permintaan, terutama ekspor, terus meningkat. Ia sendiri mengaku tidak bisa memenuhi semua pesanan. Dengan mempekerjakan 50 penjahit, ia hanya sanggup membuat 2.000 jilbab per bulan. “Kami tidak bisa buat banyak karena menjahitnya memang perlu teknik tersendiri dan tidak bisa cepat,” katanya.(kontan)

Tidak ada komentar: