Senin, 19 Oktober 2009

Meraup laba dari sandal kartun lucu

ALAS KAKI, entah itu sepatu atau sandal, bukan lagi hanya kebutuhan sandang yang bersifat primer. Kini, alat alas kaki juga sudah menjadi bagian dari fesyen. Makanya, makin banyak kreasi alas kaki unik yang beredar di pasaran.

Adalah Sukirno, salah seorang yang jeli menangkap peluang bisnis alas kaki itu. Agar bisa bersaing, Sukirno sadar dia harus menawarkan sesuatu yang unik dan berbeda. Maka pada 2002 silam, Sukirno mulai memproduksi berbagai macam sandal dengan beragam bentuk unik.
Misalnya, bentuk buah-buahan atau tokoh kartun dengan warna-warni nan cantik.

Bisnis pembuatan sandal unik ini cantik ini sebenarnya bukanlah bisnis pertama Sukirno. Sebelumnya, ia sempat memproduksi gantungan kunci dari bahan karet sebagai barang jualannya. Namun ternyata bisnis gantungan kunci itu seret. Merasa tak bisa mengasapi dapurnya dengan bisnis gantungan kunci itu, Sukirno pun mencari ide produk lain yang belum banyak dikerjakan orang.

Tercetuslah ide membuat sandal berbentuk unik di benaknya. “Idenya muncul tiba-tiba, karena selama ini saya lihat bentuk sandal itu-itu saja,” beber Sukirno. Ia butuh waktu sekitar setahun untuk bereksperimen membuat sandal berkualitas baik, termasuk mencari berbagai macam bentuk dan model sandal.

Setelah semua persiapan beres, dengan modal sekitar Rp 1,5 juta, Sukirno pun mulai menggulirkan roda bisnisnya. Modal sebanyak itu dia gunakan membeli cetakan sandal, bahan pewarna, lem, spon dan kain. Berbagai macam bentuk sandal lucu pun berhasil ia ciptakan. Seperti model pepaya, semangka, dan karakter tokoh kartun Walt Disney seperti Micky Mouse.

Buat menengah ke atas

Awalnya, dia hanya mampu memproduksi sekitar 300 pasang sandal per minggu. Harga jualnya Rp 6.000 sepasang.

Sukirno memasarkan sandal buatannya itu melalui saudaranya yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima di Bandung. Tapi tak lama ia pun berpikir, sandalnya lebih cocok untuk kalangan menengah ke atas. “Sehingga pemasarannya saya alihkan ke Jakarta dan saya bekerjasama dengan beberapa tempat pariwisata di Jakarta,” katanya.

Mendapat respon positif dari pasar, Sukirno pun mengembangkan sandal berbentuk ikon atau maskot tempat wisata, seperti Dunia Fantasi, Taman Safari dan Ragunan.

Selain jualan di area wisata, Sukirno pun menjual sandalnya secara eceran di toko-toko. Harga jualnya pun naik menjadi Rp 25.000 sepasang untuk eceran, dan Rp 15.000 untuk grosiran. “Margin untuk grosir 40%, dan eceran bisa sampai 150%,” katanya.

Kini, produksi Sukirno sudah meningkat. Dibantu 16 karyawannya, kini mampu memproduksi hingga 1.000 pasang sandal dalam sepekan. Setiap bulan, Sukirno harus menyediakan Rp 7 juta untuk belanja bahan baku dan biaya operasional.

Lantas bagaimana proses produksinya? Sukirno mengatakan, beberapa bagian proses memang butuh formula tertentu yang jadi rahasia dapurnya. Tapi secara umum pembuatan sandal ini relatif mudah.

Pertama-tama, cetak bahan baku spon dalam cetakan untuk membentuk alas sandal. Lalu, warnai sandal dengan pewarna menggunakan tangan dan juga mesin. Setelah itu baru dipasang tali dari kain dan dijahit.

Sukirno mengaku dalam sebulan ia bisa menjual 1.000 pasang sandal. Secara kasar, dengan asumsi harga jual rata-rata Rp 20.000 sepasang, omzetnya Rp 20 juta sebulan (kontan)

1 komentar:

bisnis mengatakan...

alo bpk/ ibu ,sy tertarik bisnis sendal kartun lucu, kl sy mau kerjasama bgaimana prosedurnya? sy pengen liat gambar sendal lucunya , kirim ke email yaya_160786@yahoo.com
terima kasih

ida