Senin, 27 Oktober 2008

Montir Tersedia Fulus Mengalir

Populasi sepeda motor yang sangat besar dan terus bertumbuh membuat bisnis bengkel tetap berkibar. Salah satu jalan masuk ke bisnis ini adalah lewat waralaba seperti yang ditawarkan HMTC Workshop. Jika berhasil menggaet pelanggan dan mampu bersaing, terwaralaba bisa segera balik modal. Mencari ladang bisnis yang pas memang susah-susah gampang. Melakukan bisnis di seputar hobi atau menjajal bisnis yang sedang marak, itu merupakan rumus yang banyak dipakai orang.

Satu lagi, melakoni bisnis yang pasarnya memang besar. Untuk yang terakhir ini, bisnis di seputar sepeda motor-seperti bengkel-bisa menjadi alternatif. Maklum, pasarnya memang luar biasa besar. Saat ini populasi sepeda motor di Indonesia diperkirakan mencapai 35 juta unit. Tentu, jumlah ini akan terus bertambah seiring turunnya suku bunga dan mahalnya harga BBM. Dengan pasar sebesar itu, tak heran jika bisnis bengkel seolah tak ada matinya. Malah jumlahnya terus bertambah dari hari ke hari. Ada yang menjadi bengkel resmi salah satu merek sepeda motor.

Tapi, ada juga yang membuka bengkel independen yang melayani sepeda motor dari segala merek. Bahkan, kini orang juga bisa membuka bengkel dengan sistem waralaba. Salah satu pihak yang menawarkan waralaba bengkel adalah HMTC, singkatan dari Hartomo Mechanical Training Center. Betul, HMTC adalah sekolah montir yang cukup terkenal. Sejak Februari 2006 lalu, HMTC telah membuka usaha bengkel sepeda motor independen, dengan nama HMTC Work Shop. "Gagasannya muncul dari peserta kursus montir, yang sehabis kursus ingin membuka bengkel dengan nama HMTC," ujar Hartomo Koes Alam Syahrir, Presiden Komisaris PT Hartomo Cipta Mekanik, sekaligus pendiri HMTC Hartomo pun menyambut gagasan itu dan membuka bengkel HMTC Workshop, sekaligus untuk mewadahi alumni HMTC yang sudah berjumlah belasan ribu mekanik.

Nah, lantaran Hartomo sudah membuka sekolah montir di pelbagai kota lewat skema waralaba, ia pun mengembangkan bengkelnya dengan jalur serupa. Walau HMTC masih terbilang hijau berkiprah di dunia bisnis otomotif roda dua, toh Hartomo yakin waralaba bengkelnya bakal sukses. "Saya berkunjung ke pelbagai daerah, dan pada umumnya mereka tahu apa itu HMTC. Jadi, saya yakin," ujarnya. Selain itu, menyiasati ketatnya persaingan di bisnis perbengkelan sepeda motor, HMTC pun memilih bermain di segmen pasar menengah bawah. Dengan begitu, gerai HMTC tidak akan berhadapan langsung dengan bengkel-bengkel besar atau bengkel resmi dari sebuah merek.

Sejak ditawarkan enam bulan lalu, HMTC sudah menjaring tiga pewaralaba. Satu di Depok, Jawa Barat; dan dua lagi di wilayah Jakarta Timur. "Ada 4 calon terwaralaba lagi yang berminat," ujar Nengah Saputra, General Manager PT Hartomo Cipta Mekanik.Modal dan iuran waralaba pakai dolarLaiknya sistem waralaba, HMTC juga mematok sejumlah persyaratan bagi investor yang berminat. Ada dua persyaratan utama.

Pertama, calon terwaralaba harus memiliki lokasi bengkel yang memadai. Lokasinya harus strategis, yakni ramai dilalui kendaraan roda dua. Selain itu, lokasi tersebut juga berjarak minimal 5 kilometer dari gerai HMTC lain. Kalau sudah punya lokasi, calon terwaralaba harus menghubungi kantor HMTC terdekat. Selanjutnya, tim HMTC Workshop akan menyurvei lokasi Anda, lalu kemudian membuat bagan (lay-out) bengkel. Jika Anda sreg dengan bagan itu, HMTC akan membuat rancangan awal perjanjian kerja sama yang mengatur antara hak dan kewajiban antara HMTC dan mitranya. Persyaratan kedua: modal. HMTC mematok jumlah investasi dalam mata uang dolar AS. Yakni, sebesar US$ 4.000 untuk bengkel ukuran 30 m2-50 m2. "Kami pakai dolar karena sekitar 70% peralatan bengkel adalah impor," ujar Nengah. "Lagi pula ini untuk menghindari ketidakpastian harga," timpal Hartomo.

Oh, ya, dana sebanyak US$ 4.000 itu akan dipakai buat pengadaan peralatan bengkel, pembuatan logo, promosi, serta iuran waralaba (franchise fee) sebesar US$ 1.500 untuk tahun pertama. Tahun selanjutnya, si terwaralaba harus membayar franchise fee kembali sebesar US$ 1.500 per tahun. "Franchise fee ini untuk biaya operasional kami dalam menunjang pengembangan bisnis mitra," kata Nengah. Selain dana sebesar US$ 4.000 itu, terwaralaba juga harus menyediakan dana tambahan yang jumlahnya sekitar Rp 35 juta lagi. Dana ini untuk biaya merenovasi bengkel, membeli suku cadang, aksesori sepeda motor, dan lain sebagainya.

Harus tahu politik bengkelKalau urusan renovasi dan penyediaan barang dagangan sudah beres, terwaralaba tinggal mengelola bengkelnya. Bagaimana soal tenaga montir yang menjadi ujung tombak bisnis ini Tak usah repot dan pusing mencari tenaga montir yang kadang susah didapat. Pasalnya, HMTC-lah yang akan menyediakan tenaga-tenaga montir hasil didikan di sekolah montirnya sendiri. "Kami memberikan mekanik yang terbaik," janji Nengah.Selanjutnya, terwaralaba akan memperoleh pelatihan mengenai seluk-beluk bisnis bengkel sepeda motor dan strategi pemasaran dari HMTC. "Atau istilahnya politik perbengkelan," kata Nengah. Nengah memberi contoh.

Katakanlah di satu wilayah terjadi banyak bengkel yang menyebabkan persaingan merebut konsumen menjadi sengit. Ada baiknya si mitra membuat terobosan. "Misalnya, buat promo lima kali servis dapat satu kali gratis," tuturnya, "Atau, gaet para tukang ojek dengan biaya servis yang lebih miring." Nah, jika semua berjalan lancar dan saban hari bengkel meladeni minimal lima transaksi, Nengah yakin, dalam waktu sekitar setahun terwaralaba sudah bisa balik modal. Namun, target lima pelanggan per hari itu ternyata agak susah juga tercapai. Setidaknya itulah yang dialami gerai HMTC Workshop di Depok yang baru berusia sebulan. Menurut sebuah sumber di situ, setiap hari paling ada dua pelanggan. Dan, baru pada akhir pekan jumlahnya naik menjadi lima pelanggan. Meski begitu, Johanes Wardi, seorang konsultan keuangan, tetap tertarik dan siap membuka gerai HMTC Workshop di bilangan Bukit Duri, Jakarta Selatan, September ini. "Saya yakin bisa jalan karena ikut HMTC yang sudah punya nama," tambahnya.

Tidak ada komentar: